Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Geser Apel, Jeruk Siam dan Sapi Perah Dominasi Sektor Agraris Kota Batu

Fajar Andre Setiawan • Sabtu, 13 Juni 2026 | 17:00 WIB
EKSODUS MASSAL: Beberapa petani menanam bibit jeruk siam madu di lahan miliknya yang berada di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu.
EKSODUS MASSAL: Beberapa petani menanam bibit jeruk siam madu di lahan miliknya yang berada di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu.

BATU, RADAR BATU - Pergeseran peta komoditas unggulan di Kota Batu resmi menempatkan sektor peternakan sapi perah dan budidaya jeruk siam sebagai penguasa baru sektor agraris. Berdasarkan Hasil Pencacahan Lengkap Sensus Pertanian, krisis iklim global dan lonjakan biaya produksi terbukti memaksa para petani melakukan eksodus massal dari komoditas apel ke tanaman yang lebih adaptif terhadap kenaikan suhu udara.

BACA JUGA: Daftar Ulang Jalur Domisili PPDB Jatim Dimulai Besok, Panitia Tegaskan Gratis

Tingginya angka unit usaha sapi perah berbanding lurus dengan ledakan populasi ternak besar di Kota Batu yang kini menembus angka 11.028 ekor. Menariknya, seluruh populasi ternak besar didominasi 100 persen oleh sapi potong dan sapi perah. Sementara, populasi kerbau berada di angka nol. Di sektor tanaman, jeruk siam mengungguli komoditas sayuran dan tanaman hias yang selama ini identik dengan Kota Batu (selengkapnya baca grafis).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno menilai faktor cuaca dan iklim menjadi pemicu utama banyak petani beralih ke komoditas jeruk. Menurutnya, tanaman jeruk memiliki ketahanan yang jauh lebih baik terhadap cuaca panas. Sebaliknya, komoditas apel membutuhkan suhu dingin yang stabil dengan minimal 22 derajat Celsius untuk dapat tumbuh secara optimal.

BACA JUGA: Bediding, 42 Green House di Kota Batu Jadi Benteng Pertanian

Peralihan ini, menurutnya tidak hanya dipengaruhi faktor alam. Lonjakan biaya produksi yang harus ditanggung petani apel turut menjadi pemicu. Kondisi tersebut diperparah oleh maraknya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), ketidakpastian harga di tingkat tapak, usia pohon apel yang mayoritas sudah tua, hingga panjangnya rantai pasar yang merugikan produsen hulu.

Realitas lapangan ini dibenarkan Duwi Rosadi, salah satu petani di Kecamatan Junrejo yang memilih memutar haluan dari kebun apelnya. Para petani saat ini memang lebih rasional dalam memilih komoditas. Jeruk, cabai, dan sayuran menjadi pilihan utama karena budidaya apel sudah terlalu menguras modal.

BACA JUGA: Keluarga Tuntut Oknum Polisi Pembunuh Mahasiswi UMM Dibui Seumur Hidup

Sektor sayuran dinilai menawarkan keunggulan berupa harga yang relatif stabil serta masa tunggu panen yang jauh lebih singkat dibandingkan buah-buahan. “Berbeda dengan apel yang memerlukan waktu hingga 6 sampai 8 bulan untuk sekali panen, sayuran seperti sawi hanya membutuhkan waktu maksimal satu bulan,” ungkapnya.

Sementara itu, komoditas cabai bisa dipanen dalam waktu 3 bulan dan terong sudah menghasilkan dalam 55 hari. Perputaran modal yang cepat dari komoditas ini sangat diandalkan petani untuk mencukupi biaya kebutuhan hidup sehari-hari. (kr2/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#petani eksodus #jeruk siam #pertanian batu #sapi perah