BATU, RADAR BATU - Menurunnya suhu udara secara drastis akibat fenomena bediding yang melanda kawasan Malang Raya justru membuka panggung astronomi langka selama sepekan ke depan. Perpaduan antara tipisnya tutupan awan di puncak kemarau dan fase bulan mati yang berlangsung sejak 11-17 Juni mendatang menciptakan visibilitas langit malam super jernih (crystal clear) yang ideal untuk memantau langsung inti Galaksi Bimasakti (Milky Way).
Dosen dan Peneliti Geofisika Departemen Fisika FSTeM Universitas Brawijaya (UB) Alamsyah M. Juwono menilai langit yang bersih merupakan kunci utama memantau galaksi.
BACA JUGA: Bediding, 42 Green House Jadi Benteng Pertanian
Sebenarnya udara menjadi lebih jernih karena pada musim bediding, kandungan uap air di atmosfer relatif rendah.
“Menariknya, pada rentang 11-17 Juni ini, posisi bumi sedang menghadap langsung ke daerah inti galaksi kita,” tutur akademisi magister bidang Cosmic Ray Astronomy tersebut.
Menurut Juwono, perburuan Bimasakti pada pertengahan Juni ini menjadi sangat istimewa berkat tiga faktor utama.
BACA JUGA: Bobol 3 Brankas Emas Senilai Rp 200 Juta, 2 Terdakwa Diadili
Pertama, langit gelap gulita lantaran absennya cahaya bulan di fase bulan mati menghilangkan polusi cahaya alami. Kedua, inti galaksi terang karena area yang saat ini menghadap langsung ke bumi adalah bagian pusat bimasakti yang paling padat dan masif. Ketiga, konjungsi planet yang membuat garis pandang malam makin cantik berkat posisi planet venus dan jupiter yang sejajar di langit.
Secara visual, gugusan bintang ini mulai terlihat saat sore petang (setelah magrib) dan bergeser perlahan dari ufuk barat menuju timur hingga Subuh. “Meskipun begitu, saya lebih suka melihatnya sekitar tengah malam, ketika suasana mulai sepi dan tidak banyak lalu lalang kendaraan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Keluarga Korban Minta Pembunuh Mahasiswi UMM Dituntut Maksimal
Apalagi, masih kata Juwono, sekarang sedang musim orang hajatan alias mantu, di mana banyak lampu dekorasi kota yang sengaja disorotkan ke angkasa dan memicu polusi cahaya.
Bagi warga yang ingin membidik Milky Way, Juwono menyarankan untuk naik ke dataran tinggi yang gelap dan jauh dari pusat kota.
Untuk urusan dokumentasi fotografi, penggunaan kamera berlensa sudut lebar atau wide angle adalah pilihan terbaik. “Memotretnya biasa saja, tentu tergantung kualitas kamera. Penggunaan teropong bintang justru kurang cocok karena akan membatasi sudut pandang,” tandasnya.
BACA JUGA: Omzet Toko Oleh-Oleh di Kota Batu Anjlok, Belanja Wisatawan Kini Hanya Rp200 Ribu Per Bus
Forecaster BMKG Karangploso Retno Wulandari menyebut fenomena bediding ini memang membuat kondisi atmosfer kering. Itulah mengapa momen ini cocok menjadi laboratorium alam ideal bagi para astronom. Lebih lanjut ia menjelaskan penurunan suhu ekstrem ini dipicu menguatnya Angin Muson Australia yang membawa massa udara bersifat jauh lebih dingin dan kering dari wilayah Australia ke Indonesia.
Pergerakan massa udara kering ini memangkas tingkat kelembapan secara drastis. Faktor ini diperparah hilangnya tutupan awan yang biasa berfungsi menahan panas. “Suhu dingin di Malang Raya disebabkan pula oleh tipisnya awan sepanjang musim kemarau. Akibatnya, energi panas bumi langsung terlepas ke atmosfer pada malam hari tanpa adanya lapisan awan yang berfungsi sebagai penahan atau selimut alami,” tambahnya. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan