BATU, RADAR BATU - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu mengingatkan petani tomat dan cabai untuk mewaspadai penyebaran virus gemini selama masa peralihan musim menuju kemarau.
Penyakit tanaman ini menjadi salah satu ancaman utama bagi sentra hortikultura karena mampu menurunkan produktivitas panen secara signifikan dalam waktu singkat.
BACA JUGA: Tak Hanya Arung Jeram, Pujon Rafting Tawarkan Beragam Aktivitas Outdoor
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Ahli Muda Distan-KP Kota Batu, Retno Indahwati, menjelaskan bahwa virus gemini menyerang sistem pembentukan klorofil sehingga daun berubah menguning, keriting, dan akhirnya menghambat proses fotosintesis.
“Begitu tanaman menunjukkan gejala daun kuning dan keriting, sebaiknya segera dicabut dan dimusnahkan agar tidak menular ke tanaman lain,” tegas Retno.
Menurutnya, penyebaran virus berlangsung melalui kutu kebul yang membawa patogen dari tanaman inang, terutama gulma wedusan yang banyak tumbuh di sekitar lahan pertanian.
BACA JUGA: Lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” Viral di TikTok, Netizen Mengaku Candu dan Sulit Lepas dari Liriknya
Retno menilai banyak petani terlambat melakukan penanganan karena baru bertindak ketika sebagian besar tanaman sudah terinfeksi.
Padahal, pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan setelah populasi kutu kebul meledak.
BACA JUGA: Kebiasaan Menghapus Story Sebelum 24 Jam karena Merasa Alay, Apa Alasannya?
Untuk mengurangi risiko kerugian, Distan-KP mengeluarkan tiga rekomendasi utama bagi petani.
Pertama, menggunakan benih tahan virus atau benih berlabel TAVI (Tomato Yellow Leaf Curl Virus Resistant).
Kedua, melakukan sanitasi lahan secara rutin dengan membersihkan gulma dan tanaman inang virus.
Ketiga, melakukan pengendalian kutu kebul sejak awal masa tanam menggunakan insektisida yang sesuai.
“Pengendalian harus dilakukan sejak dini. Jangan menunggu tanaman sudah banyak yang terserang,” pungkas Retno.
Dinas Pertanian berharap langkah preventif tersebut dapat menekan potensi kerugian petani tomat dan cabai selama musim kemarau 2026. (Ramyzard Rafsanjani/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan