BATU, RADAR BATU - Ratusan siswa di Kota Batu terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di gedung pinjaman setelah proyek rehabilitasi sekolah mereka mangkrak berbulan-bulan.
Penyebabnya, kontraktor pelaksana diduga meninggalkan proyek sebelum pekerjaan selesai.
Tiga sekolah terdampak yakni SMPN 4 Kota Batu, SDN Temas 1, dan SDN Sisir 1. Total nilai proyek rehabilitasi gedung tersebut mencapai lebih dari Rp 2,5 miliar.
BACA JUGA: Fenomena “Overstimulated” akibat Gadget Mulai Memengaruhi Pelajar
Di SDN Sisir 1, kondisi bangunan sekolah terlihat memprihatinkan. Atap gedung belum terpasang, kerangka baja ringan terbuka, sementara material konstruksi berserakan di halaman sekolah.
Akibat kondisi itu, pihak sekolah memutuskan memindahkan sementara aktivitas belajar siswa ke gedung SDN Sisir 2.
Kepala SDN Sisir 1 Dewi Nugraeni mengatakan, langkah tersebut diambil demi keselamatan siswa karena area proyek rawan membahayakan anak-anak.
BACA JUGA: Enam Calon Sekda Kota Batu Jalani Tes Kesehatan di RSUD Karsa Husada
“Kami melarang siswa bermain di dekat bangunan proyek karena masih banyak material dan struktur yang belum aman,” katanya.
Menurut Dewi, aktivitas sekolah tetap berjalan meski fasilitas sangat terbatas.
Pihak sekolah bahkan harus menata ulang area halaman agar tetap bisa dipakai untuk kegiatan upacara dan ekstrakurikuler.
BACA JUGA: Selain Bersantai, Ini Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Telaga Madiredo
Kasus proyek mangkrak ini menjadi sorotan karena menyangkut hak dasar siswa memperoleh fasilitas pendidikan yang layak.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Batu Cahya Wisesa mengakui proyek rehabilitasi itu mengalami kegagalan serius setelah ditinggalkan kontraktor pelaksana, PT Alnusakon Era Laju.
“Hasil evaluasi sementara menunjukkan progres pengerjaan rata-rata belum sampai 50 persen. Bahkan di SMPN 4 kurang dari 10 persen,” ujarnya.
BACA JUGA: Tim Medis Blokir Pasokan Ternak Tanpa SKKH
Meski begitu, Pemkot Batu memastikan belum ada kerugian anggaran karena pembayaran proyek belum dilakukan.
“Sistemnya pembayaran setelah pekerjaan selesai total, jadi belum ada pencairan,” jelas Cahya.
Kini para siswa dan guru masih harus bertahan di ruang belajar sementara sambil menunggu kepastian nasib pembangunan sekolah mereka dilanjutkan kembali. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan