Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja di Kota Batu Melandai

Fajar Andre Setiawan • Sabtu, 9 Mei 2026 | 20:00 WIB
Ilustrasi orang berangka kerja. (Pexels)
Ilustrasi orang berangka kerja. (Pexels)

 

BATU - Grafik Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Kota Batu menunjukkan tren melandai. Hingga awal Mei tahun ini, Disnaker hanya mencatat empat pekerja yang kehilangan mata pencarian. Angka tersebut jauh lebih kecil dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 143 pekerja terkena PHK.

Kebanyakan PHK di Kota Batu terjadi akibat kebijakan internal perusahaan. Salah satunya pengalihan status kerja. Seperti yang terjadi pada 2025 lalu, 139 dari 143 orang ter-PHK berasal dari perusahaan yang sama. Alasannya, lantaran pegawai dialihstatuskan menjadi tenaga outsourcing. Selebihnya, PHK terjadi karena faktor usia.

BACA JUGA: Daycare di Batu Hadapi Speech Delay hingga Adiksi Gawai, SDM Pengasuh Jadi Sorotan

Kepala Disnaker Kota Batu Mokhamad Forkan mengatakan alasan PHK di tingkat lokal berbeda dengan tingkat nasional. Di tingkat nasional, gelombang besar PHK justru terjadi lantaran masifnya penggunaan robot atau kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). “Sementara itu, di Kota Batu murni karena faktor usia,” tegasnya.

Meski begitu, Forkan memastikan hak-hak para pekerja tersebut tetap terpenuhi sesuai regulasi. Pihaknya terus memantau proses transisi pasca-PHK agar tidak menimbulkan sengketa industrial. “Seluruh pekerja telah menerima hak pesangon dari perusahaan dan jaminan ketenagakerjaan,” ungkapnya.

BACA JUGA: Bisnis Daycare Tumbuh Tanpa Induk Pengawasan, Pengelola Terpaksa Jalan Sendiri-Sendiri

Hal itu mengacu pada pada UU No. 13 Tahun 2003 dan PP No. 35 Tahun 2021. Sejauh ini, perselisihan industrial di Kota Batu tergolong kondusif karena mayoritas selesai di meja mediasi tanpa harus naik ke meja hijau. Forkan menegaskan keberadaan AI tak memberikan pengaruh signifikan dalam pemangkasan tenaga kerja.

Sebab, mayoritas basis pekerjaan di Kota Batu masih sangat bergantung pada manusia. Sebagai contoh, bidang pariwisata dan UMKM yang memerlukan pelayanan hospitality hingga pertanian yang didominasi teknik budidaya konvensional.

Meski sektor pariwisata dan pertanian masih sangat memerlukan tenaga manusia, pemerintah tetap pasang kuda-kuda. Pelatihan literasi digital mulai digencarkan agar pekerja lokal memiliki kompetensi yang sulit digantikan mesin. Misalnya, kemampuan kritis dan empati pelayanan. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#tenaga kerja #phk #disnaker