BATU, RADAR BATU - Sebuah tragedi memilukan yang terjadi 12 tahun silam di Kota Batu kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Hal ini bermula setelah kanal YouTube populer, Nadia Omara, mengunggah sebuah video pada 19 April lalu. Video berdurasi 34 menit tersebut menceritakan pengalaman tragis seorang narasumber bernama Ara terkait insiden arung jeram (rafting).
Meskipun dalam narasi videonya Nadia Omara tidak menyebutkan identitas asli korban maupun lokasi kejadian secara spesifik, ketelitian netizen berhasil mengungkap tabir cerita tersebut. Para penonton segera menghubungkan detail cerita dengan peristiwa nyata yang menimpa rombongan wisatawan di Sungai Brantas pada Februari 2014 silam.
Unggahan tersebut memicu respons emosional dari keluarga korban. Melalui akun Bunda Tegar, ibu dari salah satu korban mengaku bahwa menonton video tersebut terasa seperti membuka kembali memori kelam yang telah terkubur belasan tahun. "Setelah saya tonton dengan seksama, ceritanya persis sekali. Luka lama saya kembali terbuka," tulisnya.
Sang ibu mengenang bahwa saat itu rombongan berangkat dari Jakarta menuju Malang Raya dengan tujuan utama melakukan sesi foto pre-wedding di Gunung Bromo. Pihak keluarga mengaku tidak pernah mengetahui jika anak-anak mereka memiliki rencana tambahan untuk bermain arung jeram di Sungai Brantas.
Kesaksian serupa juga datang dari kerabat korban lainnya melalui akun saharajulia9275. Ia mengenang percakapan terakhir dengan kakaknya yang pamit untuk pergi dan berjanji akan pulang pada hari Minggu. Ironisnya, sang kakak benar-benar pulang pada hari Minggu dalam keadaan sudah tidak bernyawa setelah proses pencarian selesai.
Berdasarkan data dari BPBD Kota Batu, insiden tersebut terjadi pada Jumat, 28 Februari 2014. Sebanyak 18 peserta yang terbagi dalam lima perahu berangkat dari titik start di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Petaka datang saat rombongan mendekati lokasi peristirahatan (rest area). Arus sungai tiba-tiba meluap deras akibat hujan lebat di kawasan hulu. Salah satu perahu yang membawa lima orang terguling, satu orang berhasil selamat, sementara empat lainnya terseret arus dan dinyatakan meninggal dunia.
Kolom komentar di kanal YouTube Nadia Omara pun dibanjiri ucapan bela sungkawa. Banyak netizen yang menyayangkan keputusan pihak pengelola rafting kala itu yang dinilai tetap memaksakan operasional meskipun kondisi cuaca dan debit air sungai sangat berisiko.
Meski harus kembali mengingat kepedihan, pihak keluarga menyatakan telah ikhlas. Mereka justru berterima kasih karena dengan viralnya kisah ini, semakin banyak orang yang mengetahui kejadian tersebut dan mengirimkan doa bagi para almarhum. (ori)
Editor : A. Nugroho