Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (20)

Fajar Andre Setiawan • Sabtu, 18 April 2026 | 10:10 WIB
LAHAN PROUKTIF: Sekelompok buruh tani tampak beraktivitas di hamparan lahan wortel Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu.
LAHAN PROUKTIF: Sekelompok buruh tani tampak beraktivitas di hamparan lahan wortel Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu

Ancaman Bencana Masih Akan Terus Mengintai

Alih fungsi lahan tak hanya menggerus pertanian, tetapi juga membuka ancaman jangka panjang. Jika tak dikendalikan, dalam dua dekade ke depan Kota Batu berpotensi menghadapi bencana ekologis sekaligus kehilangan identitasnya sebagai daerah agraris.

HAMPARAN kebun terlihat hijau, udara terasa sejuk, dan aktivitas petani berjalan seperti biasa. Namun, di balik lanskap yang tampak baik-baik saja itu, perubahan sedang berlangsung pelan tapi pasti.

Satu per satu bangunan wisata berdiri. Vila, kafe, hingga wahana rekreasi tumbuh di sela-sela lahan yang dulu produktif. Alih fungsi lahan tak lagi sekadar wacana. Ia sudah menjadi realitas yang membentuk wajah baru Kota Batu.

Dari situlah kekhawatiran muncul. Pengamat Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Fery Abdul Choliq mengingatkan perubahan yang terjadi hari ini menyimpan konsekuensi jangka panjang. Jika alih fungsi lahan terus berlangsung secara masif, Kota Batu berpotensi menghadapi risiko besar dalam dua dekade mendatang.

Baca Juga: Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (19): Laboratorium Pertanian Terpadu Batal Dibangun

“Kalau kita melihat 20 tahun ke depan, dengan penyusutan lahan pertanian yang signifikan, potensi bencana akan semakin besar,” ujarnya. Menurut dia, dampak alih fungsi lahan tidak berhenti pada hilangnya area tanam. Lebih dari itu, ia menyentuh keseimbangan ekologis.

Lahan-lahan produktif, terutama yang berada di kawasan resapan air, memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas lingkungan. Ketika fungsi itu hilang, ancaman mulai terbuka. “Banjir dan tanah longsor menjadi risiko nyata,” tegasnya.

Dalam perspektifnya, Kota Batu bukan hanya kehilangan lahan, tapi juga sistem penyangga alam. Ketika kawasan resapan berubah menjadi bangunan, air tidak lagi terserap dengan baik. Saat hujan deras, air akan mencari jalannya sendiri, seringkali dalam bentuk bencana.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Ditarget 5 Persen, Sektor Pertanian Jadi Motor Penggerak Utama

Selain aspek ekologis, perubahan ini juga menyentuh identitas daerah. Kota Batu yang selama ini lekat dengan citra apel perlahan berpotensi kehilangan simbol tersebut. “Kalau kebun apel terus menyusut, citra itu bisa hilang,” imbuhnya.

Di sisi lain, keberlanjutan sektor pertanian juga bergantung pada faktor yang lebih mendasar yakni ekonomi. Bagi Fery, petani hanya akan bertahan jika sektor ini mampu memberikan penghasilan yang layak.

“Pertanian harus bisa menjamin kehidupan. Kalau tidak, orang akan meninggalkannya,” jelasnya. Kondisi itu kini mulai terlihat. Menyusutnya lahan membuat peluang bertani semakin sempit. Dampaknya, minat generasi muda untuk terjun ke sektor ini ikut menurun.

Regenerasi petani menjadi persoalan yang kian nyata. Fery menilai tanpa intervensi yang serius, sektor pertanian bisa kehilangan tenaga penggeraknya dalam waktu tidak terlalu lama.

Baca Juga: Pemkot Batu Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen 2026, Pertanian Jadi Andalan

Sejumlah langkah, menurutnya, perlu segera dilakukan.

Salah satunya adalah memperketat regulasi perizinan, terutama untuk pembangunan sektor wisata. Ia menekankan analisis dampak lingkungan (amdal) tidak boleh hanya menjadi formalitas administratif. “Harus benar-benar dikaji dengan serius,” ujarnya.

Selain itu, komunikasi antara pemerintah dan petani perlu diperkuat. Kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) dinilai memiliki peran strategis sebagai jembatan informasi dari lapangan. Kebijakan, menurutnya, harus disusun dari kebutuhan riil, bukan semata dari atas. “Pendekatannya harus bottom-up,” tambahnya.

Di lapangan, kegelisahan itu sudah dirasakan petani. Suliyono, petani asal Desa Sumbergondo, melihat langsung perubahan itu. Ia menyebut jumlah petani apel terus berkurang dari tahun ke tahun. “Banyak yang beralih, bahkan ada yang berhenti,” ujarnya.

Baca Juga: Kejar Pertumbuhan 5 Persen, Wali Kota Batu Minta Pertanian, Pariwisata, dan Perdagangan Disinergikan

Ia memahami alasan di balik itu. Bertani tak lagi semudah dulu. Biaya meningkat, hasil tak selalu pasti, sementara lahan kian menyempit. Di tengah situasi itu, generasi muda memilih jalan lain. Namun, Suliyono memilih bertahan. Ia mengubah strategi dengan tidak hanya bergantung pada apel.

Di lahannya, ia mulai menanam berbagai komoditas hortikultura seperti wortel, cabai, kubis, hingga sayuran lain. Diversifikasi menjadi cara untuk bertahan sekaligus beradaptasi. Langkah kecil itu mencerminkan satu hal, yakni pertanian masih mungkin hidup selama ada ruang untuk berbenah.

Kini, Kota Batu berada di sebuah persimpangan panjang. Di satu sisi, pariwisata menawarkan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Di sisi lain, pertanian menyimpan peran penting sebagai penjaga ekosistem dan identitas daerah.

Pilihan yang diambil hari ini mungkin belum terasa dampaknya. Namun, dua puluh tahun ke depan, jawabannya akan hadir dengan sendirinya. Entah dalam bentuk keseimbangan yang terjaga, atau justru bencana yang tak terelakkan. (dre)

 

Editor : A. Nugroho
#Amdal wisata #kebun #ub #gapoktan