Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (15): Industrialisasi Pariwisata Gerus Regenerasi Petani

Zanadia Manik Fatimah • Senin, 13 April 2026 | 09:30 WIB
PENUH SEMANGAT: Salah seorang pekerja di sektor pertanian tengah membersihkan rumput diantara tanaman wortel di salah satu lahan pertanian Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu. ZANADIA MANIK FATIMAH/RADAR BATU
PENUH SEMANGAT: Salah seorang pekerja di sektor pertanian tengah membersihkan rumput diantara tanaman wortel di salah satu lahan pertanian Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu. ZANADIA MANIK FATIMAH/RADAR BATU

Minat generasi muda terhadap pertanian terus menurun di Kota Batu. Banyak anak petani memilih bekerja di sektor wisata yang dianggap lebih menjanjikan. Di tengah situasi itu, segelintir petani muda tetap bertahan. Sebagian karena keadaan, sebagian karena pilihan. Mereka menjadi penopang terakhir regenerasi di sektor yang kian terdesak.

ZANADIA MANIK FATIMAH

Sebidang lahan seluas sekitar 700 meter persegi di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji tampak kosong. Tanahnya baru saja selesai dipanen. Di lahan itulah Yeni Wijayanti menanam sawi beberapa waktu lalu.

Perempuan 31 tahun itu kini menunggu musim tanam berikutnya. Ia bersiap kembali ke siklus yang sama. Menanam, merawat, lalu menunggu hasil yang tak pernah pasti. Musim lalu, ia sempat merugi. Namun, Yeni tidak berhenti.

Ia tetap memilih bertahan sebagai petani. Bukan semata karena keinginan, tetapi karena keadaan yang membawanya ke sana. Lahan itu adalah warisan keluarga. Ia tidak memiliki banyak pilihan lain. “Kalau tidak bertani, mau jadi apa,” ujarnya singkat.

BACA JUGA Libur Lebaran Tak Mampu Angkat Ekonomi Songgoriti

Padahal, latar belakang pendidikan Yeni tidak berkaitan dengan pertanian. Ia lulusan SMK jurusan tata boga. Dunia dapur sempat menjadi jalannya. Namun, hidup membawanya kembali ke ladang pertanian.

Sejak menikah pada usia 21 tahun, ia mulai aktif bertani. Suaminya juga seorang petani. Dari situlah ia belajar mengelola lahan secara perlahan. Meski begitu, benih ketertarikan sebenarnya sudah tumbuh lebih awal.

Sejak SMA, ia sering diajak ayahnya ke ladang. Dari situ, ia mulai mengenal ritme bertani. Bagi Yeni, pertanian memiliki “seni” tersendiri. Kadang memberi keuntungan. Kadang justru mendatangkan kerugian.

Semua berjalan dalam siklus yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan. Di tengah kondisi yang serba fluktuatif, kemampuan mengelola lahan menjadi kunci. Ia belajar untuk tidak terlena saat untung datang.

BACA JUGA Jalur Klemuk Batu Ditutup Tapi Masih Dilanggar, Dua Kecelakaan Terjadi dalam Sepekan

Sebaliknya, ia harus siap secara mental dan finansial ketika rugi menghampiri. Di sela aktivitasnya, Yeni juga aktif dalam kelompok wanita tani di desanya. Melalui kelompok itu, ia belajar mengolah hasil panen menjadi produk turunan.

Hasil pertanian tidak lagi dijual mentah. Ada upaya memberi nilai tambah agar pendapatan lebih stabil. Namun, tidak semua anak muda memilih jalan seperti Yeni.

Di Kota Batu, sektor pariwisata tumbuh pesat dalam dua dekade terakhir. Hotel, kafe, dan tempat wisata membuka banyak lapangan pekerjaan baru. Bagi generasi muda, sektor ini terlihat lebih menjanjikan.

Pendapatan lebih pasti. Risiko lebih kecil. Lingkungan kerja di sektor tersebut dianggap lebih modern. Akibatnya, banyak anak petani memilih meninggalkan ladang. Regenerasi petani pun tersendat. Di banyak desa, petani yang tersisa didominasi usia tua. Lahan masih ada, tapi tenaga pengelolanya semakin terbatas.

Di tengah kondisi itu, muncul sosok seperti Yosia Abner Bezaleel. Pemuda 25 tahun itu justru memilih pertanian sebagai jalan hidupnya. Berbeda dengan Yeni yang bertahan karena keadaan, Yosia datang dengan pilihan sadar.

Ia sengaja menempuh pendidikan di bidang pertanian di Universitas Brawijaya. Keputusan itu diambil untuk satu tujuan, yakni mengembangkan potensi pertanian di daerah asalnya. Sejak kecil, Yosia sudah akrab dengan dunia ladang. Ia terbiasa membantu ayahnya memanen kentang dan berbagai komoditas lain.

Pengalaman itu menumbuhkan kedekatan emosional dengan pertanian. Kini ia aktif sebagai petani muda sekaligus pengembang benih kentang. Ia terlibat dalam pengembangan bibit unggul yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.

Selain itu, ia juga bekerja di laboratorium pertanian desa. Di sana, ia mengembangkan teknik kultur jaringan untuk menghasilkan benih berkualitas. “Di pertanian banyak hal yang bisa dipelajari,” katanya.

Rasa ingin tahu itu membuatnya tetap bertahan. Saat ini, Yosia mengelola lahan sewa seluas sekitar 400 meter persegi. Lahan tersebut ditanami kentang dengan bibit hasil pengembangannya sendiri. Langkah kecil, tetapi memiliki makna besar.

BACA JUGA Penertiban PKL Liar di Alun-Alun Kota Batu Masih Terkendala Jam Kerja Satpol PP

Ia tidak hanya bertani. Ia mencoba membawa inovasi ke dalam praktik lapangan. Bagi Yosia, masa depan pertanian bergantung pada keberanian beradaptasi. Ia berharap lebih banyak anak muda mau terjun ke sektor ini. Bukan sekadar melanjutkan tradisi, melainkan juga mengembangkan pertanian dengan pendekatan baru.

“Pertanian tidak boleh ditinggalkan. Justru harus dikembangkan,” ujarnya. Kisah Yeni dan Yosia memperlihatkan dua wajah petani muda hari ini. Satu bertahan karena keadaan. Satu lagi datang karena pilihan. Keduanya berada dalam arus besar yang sama. Arus yang menarik generasi muda menjauh dari pertanian.

Di tengah laju pariwisata yang terus tumbuh, ladang-ladang di Kota Batu kehilangan penerusnya. Pertanian tidak hanya menghadapi ancaman alih fungsi lahan. Tetapi juga krisis regenerasi. Jika kondisi ini terus berlanjut, persoalannya bukan lagi soal produksi.

Namun, siapa yang akan menggarap tanah di masa depan.

Editor : Fajar Andre Setiawan
#alih fungsi lahan #seri pertanian #lahan pertanian