BATU - Upaya penanganan Jalur Klemuk di Kota Batu dinilai setengah hati. Selain penutupan yang belum efektif, rencana rehabilitasi jalur penyelamat hingga kini juga belum terealisasi.
Jalur di Jalan Rajakwesi, Kelurahan Songgokerto tersebut sudah resmi ditutup sejak akhir 2025. Namun fakta di lapangan, pengendara masih kerap menerobos portal dan pembatas yang telah dipasang.
Koordinator Relawan Klemuk Yes Yes (KYY), Suliyanto, menilai kondisi ini berbahaya karena tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur keselamatan.
“Yang paling mendesak adalah pembuatan jalur penyelamat di sisi kanan,” ujarnya.
Menurutnya, pengajuan anggaran untuk rehabilitasi sebenarnya telah dilakukan dan hampir rampung secara administratif. Namun usulan tersebut akhirnya tidak disetujui.
“Sudah hampir selesai, sekitar 90 persen, tapi akhirnya ditolak,” ungkapnya.
Anggaran yang diajukan mencapai sekitar Rp150 juta. Dana tersebut direncanakan untuk memperbaiki jalur penyelamat di dua sisi, termasuk penambahan material pasir, sekam, serta perlengkapan keselamatan lainnya.
Meski belum terealisasi, perbaikan terbatas tetap dilakukan mengingat tingginya risiko kecelakaan di jalur dengan medan curam tersebut.
Dinas Perhubungan Kota Batu bersama kepolisian juga telah memasang berbagai rambu peringatan. Namun, tanpa dukungan infrastruktur yang memadai dan penegakan hukum yang tegas, pelanggaran masih terus terjadi.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa penutupan Jalur Klemuk hanya bersifat administratif tanpa solusi konkret di lapangan.
Jika tidak segera ditangani secara komprehensif, jalur tersebut berpotensi terus menjadi titik rawan kecelakaan di Kota Batu.
Editor : Fajar Andre Setiawan