BUMIAJI, RADAR BATU - Polemik kandang babi di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji mulai menemukan titik terang. Pemilik menyatakan kesediaan menjual seluruh ternak dan menutup kandang setelah komunikasi intensif dengan berbagai pihak kemarin (6/5).
Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan yang melibatkan pemilik kandang, pemerintah desa, aparat kepolisian, serta perwakilan kecamatan. Dialog digelar untuk merespons keluhan warga terkait keberadaan kandang di tengah permukiman tersebut.
BACA JUGA: 53 Ribu Penerima Subsidi BPJS di Kota Batu Diduga Orang Mampu, APBD Jebol Rp3 Miliar per Bulan
Pemilik kandang, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan siap melepas seluruh ternak meski membutuhkan waktu. “Saya siap menjual, tetapi tidak bisa langsung,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penjualan babi di Kota Batu tidak memiliki pasar tetap sehingga prosesnya bergantung pada pembeli. Menurutnya, keberadaan ternak tersebut bukan untuk usaha komersial, melainkan bagian dari hobi keluarga. “Sejak dulu memang memelihara hewan, bukan untuk usaha ternak,” imbuhnya.
Saat ini, terdapat delapan ekor babi di lokasi tersebut. Jumlah itu berkurang dari sebelumnya yang sempat disebut 14 ekor. Empat di antaranya dalam kondisi bunting, sehingga berpotensi menambah populasi jika tidak segera dijual.
BACA JUGA: Dekatkan Satwa Endemik, Drive Thru Park Hadirkan Sesi Foto Bareng Burung Hantu
Pemilik memastikan tidak akan kembali memelihara babi di lokasi tersebut setelah seluruh ternak terjual. “Kalau sudah habis, tidak akan memelihara lagi,” tegasnya.
Kasi Ketenteraman dan Ketertiban Umum Kecamatan Bumiaji Achmad Husni berharap kesepakatan ini dapat meredakan polemik yang berkembang di masyarakat. Ia meminta pemilik segera mencari pembeli agar persoalan tidak berlarut.
“Harus segera diupayakan penjualannya agar tidak menimbulkan konflik,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan dampak lingkungan selama proses berlangsung.
Sementara itu, Kanit Intel Polsek Bumiaji Herry Priyoso mengingatkan pengelolaan kebersihan kandang tetap harus dijaga. “Kalau bersih, potensi keluhan bisa diminimalkan. Kami akan mengawal realisasi kesepakatan hingga kandang benar-benar ditutup,” katanya.
BACA JUGA: Batu Night Spectacular Hadirkan Wajah Baru Lampion Garden
Di sisi lain, Kepala Desa Bulukerto Suhermawan membuka kemungkinan pengelolaan peternakan melalui skema kandang komunal di masa mendatang. Namun, fokus saat ini adalah menyelesaikan persoalan yang ada secara bertahap. “Kami utamakan stabilitas sosial,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan kasus ini membutuhkan pendekatan persuasif karena menyangkut sensitivitas di tengah masyarakat. Dengan kesepakatan tersebut, diharapkan potensi konflik sosial dan dampak lingkungan dapat segera mereda. (dia/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan