BATU, RADAR BATU - Program ketahanan pangan telah diterapkan di sekitar 57 sekolah di Malang Raya, termasuk Kota Batu. Program tersebut tidak hanya menjadi sarana produksi pangan. Namun, juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran lintas mata pelajaran.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jatim Aries Agung Paewai menyebut, 57 sekolah tersebut terdiri atas SMA, SMK, dan SLB baik negeri maupun swasta. “Kota dan Kabupaten ada 17 sekolah. Kalau sama Kota Batu ada sekitar 57 sekolah,” ujarnya.
Program tersebut merupakan Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (Sikap) yang diinisiasi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Penerapannya dengan memanfaatkan ruang publik sekolah yang belum optimal untuk kegiatan produktif.
Baca Juga: HUT Ke-81 RI Jadi Momentum Pemkot Batu Benahi Program MBG dan KDKMP - Radar Batu
“Banyak ruang publik sekolah yang tidak berfungsi maksimal. Padahal harus produktif, sehingga dimanfaatkan melalui ketahanan pangan,” imbuhnya. Salah satu sekolah yang menerapkannya yakni SMAN 2 Batu.
Sejak awal tahun lalu, sekolah itu menanam sejumlah komoditas. Di antaranya kangkung, kacang panjang, tomat, dan cabai. Program serupa juga diterapkan SMKN 2 Batu dengan komoditas yang sama. Bahkan, tiga komoditas itu masuk enam produk unggulan sekolah.
Menurut Aries, program ketahanan pangan tidak hanya mengajarkan siswa tentang pertanian. Berbagai disiplin ilmu dapat diintegrasikan dalam kegiatan tersebut. “Ada pembelajaran statistik, biologi, hingga fisika yang masuk di dalamnya. Karena itu, program ini harus dimaksimalkan sekolah sebagai ruang interaksi,” terangnya.
Sekolah dengan keterbatasan lahan juga tetap bisa menerapkan program tersebut. Salah satunya melalui teknologi hidroponik. Metode ini memungkinkan tanaman dibudidayakan tanpa tanah dengan memanfaatkan air yang diberi nutrisi. Dengan metode tersebut, area terbatas seperti dinding, atap, hingga selasar sekolah tetap bisa dimanfaatkan.
Editor : Fajar Andre Setiawan