BATU, RADAR BATU - Sebanyak 4.550 e-ijazah diterbitkan madrasah di Kota Batu pada tahun kedua penerapan sistem ijazah digital. Rinciannya, 860 untuk RA, 1.366 MI, 1.368 MTs, dan 956 MA. Sistem ini dinilai mempercepat penerbitan dan meminimalkan kesalahan dan pemalsuan dokumen.
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kemenag Kota Batu Siti Nur Jamilah mengatakan e-ijazah mulai diterapkan seluruh lembaga pendidikan di bawah Kemenag sejak 2025. Peralihan dari ijazah konvensional membuat proses pengisian lebih praktis. Sebab, tidak lagi bergantung pada penulisan manual.
“Dari 4.550 e-ijazah tersebut, jenjang RA ada 860, MI ada 1.366, MTs ada 1.368, dan MA ada 956,” tegasnya. E-ijazah memiliki barcode dan tanda tangan elektronik (TTE) yang terintegrasi dengan sistem data madrasah. Di antaranya Pangkalan Data Ujian Madrasah (PDUM) dan Education Management Information System (EMIS).
Baca Juga: Bupati Malang Tegaskan Sekolah Harus Bebas Bullying dan Pelecehan Seksual - Radar Batu
Fitur tersebut juga memudahkan proses validasi dokumen. Masyarakat dan instansi yang membutuhkan dapat memindai barcode untuk memastikan keaslian ijazah. “Melalui barcode dan TTE, validasi bisa dilakukan secara mandiri melalui sistem digital,” kata dia.
Meski lebih praktis, penerapannya masih membutuhkan ketelitian operator. Terutama saat mencetak e-ijazah pada blangko resmi yang didistribusikan Kemenag RI. Kesalahan input dan pencetakan dapat membuat blangko dinyatakan rusak.
“Kadang ada yang seharusnya mencetak satu ijazah, tetapi malah tercetak empat. Sehingga, tiga lainnya dinyatakan rusak,” imbuhnya. Karena itu, Kankemenag Kota Batu terus memberikan pendampingan teknis kepada operator madrasah. Setiap data siswa diminta diperiksa kembali sebelum proses pencetakan dilakukan.
Editor : Fajar Andre Setiawan