BATU, RADAR BATU - Seluruh tahapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMP negeri di Kota Batu Tahun Ajaran 2026/2027 telah berakhir. Berakhirnya proses seleksi itu mengalihkan perhatian ribuan lulusan SD ke sekolah swasta. Data Dinas Pendidikan (Disdik) menunjukkan, 22 SMP swasta membuka daya tampung mencapai 2.120 kursi.
Kuota tersebut terbagi dalam 68 rombongan belajar (rombel). Sementara, sembilan SMP negeri hanya menyediakan 1.618 kursi yang tersebar dalam 51 rombel. Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdik Kota Batu Cahya Wisesa mengatakan kapasitas sekolah swasta masih memadai untuk mengakomodasi lulusan SD yang belum diterima di SMP negeri.
BACA JUGA: 300 Pendaftar Beasiswa Seribu Sarjana di Kota Batu Dipastikan Tersingkir
Karena itu, ia mengimbau orang tua tidak memandang sekolah swasta sebagai pilihan kedua. “Di Kota Batu, kualitas SMP swasta sudah sangat kompetitif, baik dari sisi akademik, fasilitas, maupun pembentukan karakter. Tidak diterima di sekolah negeri bukan berarti masa depan anak menjadi suram,” ujarnya.
Menurut Sesa, sapaan akrab Cahya Wisesa, sekolah swasta di Kota Batu terus berbenah. Salah satunya melalui peningkatan kualitas tenaga pendidik, fasilitas pembelajaran, hingga penguatan pendidikan karakter. Kondisi tersebut membuat mutu pendidikan swasta semakin bersaing dengan sekolah negeri.
BACA JUGA: 423 Hektare Sawah di Kota Batu Dikunci sebagai Lahan Dilindungi
Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Kota Batu Windra Rizkyana menilai proses penerimaan peserta didik baru di sekolah swasta tahun ini berjalan cukup baik. Meski rekapitulasi seluruh sekolah belum rampung, keterisian siswa diperkirakan tidak jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ia melihat adanya perubahan preferensi masyarakat dalam memilih sekolah. Saat ini, sekolah swasta berbasis agama menjadi pilihan yang semakin diminati. Khususnya karena menawarkan penguatan pendidikan karakter dan nilai-nilai keagamaan.
“Masyarakat sekarang cenderung mencari sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan pembinaan karakter melalui pendidikan agama,” katanya. Menurut Windra, sekolah berbasis Islam seperti SMP IIBS Al-Izzah dan SMP IIBS Al-Hikmah hampir selalu menjadi sekolah yang lebih cepat memenuhi kuota penerimaan setiap tahun.
BACA JUGA: Diskumperindag dan Paguyuban Bantah Dugaan Wedang Ronde Tak Higienis di Alun-Alun Kota Batu
Skema penerimaan murid baru yang dipakai juga berbeda dengan SMP negeri. Sebab, SMP negeri menerapkan seleksi berdasarkan jalur dalam SPMB. Sedangkan, sebagian besar sekolah swasta memiliki mekanisme penerimaan yang lebih fleksibel.
Mayoritas juga tidak menerapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan tes membaca Al-Qur'an sebagai syarat utama penerimaan siswa. “Sekolah swasta umumnya lebih menitikberatkan pada komitmen orang tua dan calon siswa untuk memilih sekolah tersebut. Prinsipnya memberikan akses pendidikan seluas-luasnya,” jelasnya.
BACA JUGA: Isu Ronde Tak Higienis Gempar di Medsos, Paguyuban PKL Pasar Laron Alun-Alun Batu Buka Suara
Windra juga menilai belum terpenuhinya kuota di beberapa sekolah swasta tidak selalu mencerminkan rendahnya kualitas sekolah. Faktor geografis masih menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam menentukan pilihan.
Selain itu, tidak seluruh lulusan SD di Kota Batu melanjutkan pendidikan di dalam wilayah kota. Banyak siswa, terutama yang tinggal di daerah perbatasan seperti Pujon dan Karangploso, memilih melanjutkan pendidikan ke Kabupaten Malang, Kota Malang, atau pondok pesantren di luar daerah.
BACA JUGA: 34 Perupa Kritik Kebijakan Publik dan Kerusakan Lingkungan di Kota Batu lewat Karya
“Mobilitas siswa cukup tinggi. Ada yang memilih sekolah dekat tempat tinggal meski berada di luar Kota Batu, ada juga yang sejak awal memang ingin masuk pondok pesantren,” ujarnya. Dengan daya tampung sekolah swasta yang mencapai 2.120 kursi, ia optimistis seluruh lulusan SD di Kota Batu memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke SMP. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan