BATU, RADAR BATU – Kebergantungan pelajar pada kecerdasan buatan (AI) generatif kini memicu kekhawatiran atas terkikisnya kemampuan literasi dasar.
Fenomena ini sangat penting diwaspadai karena mengancam ketajaman berpikir kritis serta kemampuan analisis mendalam di dalam ekosistem akademik.
Baca Juga: Penelitian Buktikan Musik Instrumental Efektif Meningkatkan Kemampuan Menghafal Pelajar
Ancaman Ketergantungan Kognitif
Laporan UNESCO dalam Guidance for Generative AI memperingatkan adanya risiko penggantian interaksi kognitif manusia oleh mesin. Pelajar saat ini memiliki kecenderungan untuk menyerahkan beban berpikir sepenuhnya kepada algoritma AI.
Kondisi tersebut akhirnya menciptakan jarak antara kecepatan menghasilkan teks dan kedalaman pemahaman materi. Proses penulisan esai yang dahulu menjadi sarana belajar, kini beralih menjadi sekadar proses kurasi output mesin yang instan.
Risiko Halusinasi Data dan Penyeragaman Gaya
Studi literasi digital dari Stanford University menyoroti kelemahan pengguna dalam memvalidasi informasi. Banyak pelajar menerima data fiktif yang dihasilkan oleh AI tanpa melakukan verifikasi silang ke sumber primer.
Baca Juga: Wajib Tahu! Belajar Bersama Ternyata Ampuh Atasi Stres Akademik
Selain masalah validitas, ketergantungan ini juga mengakibatkan penyeragaman gaya bahasa pada karya ilmiah. Tulisan mahasiswa kehilangan karakter personal dan orisinalitas akibat terlalu mengikuti pola prediktif kaku dari model bahasa besar (LLM).
Urgensi Kemampuan Deep Reading
Pakar neurosains Maryanne Wolf menekankan bahwa budaya membaca digital yang cepat mengikis kemampuan deep reading.
Tanpa latihan membaca mendalam, sirkuit otak untuk analisis kritis dan empati intelektual akan sulit terbentuk secara optimal. Pelajar yang hanya mengandalkan AI tanpa penguasaan fondasi literasi berisiko kehilangan daya saing di dunia kerja profesional.
Baca Juga: Ini Alasan Podcast Jadi Pilihan Baru Pelajar Zaman Now
AI sejatinya berfungsi sebagai asisten, bukan pengganti proses intelektual manusia. Penguatan kurasi dan verifikasi mandiri menjadi kunci utama agar teknologi tidak melumpuhkan daya pikir pelajar.
Keseimbangan antara pemanfaatan AI dan pemeliharaan kemampuan dasar membaca-menulis manual memastikan kendali intelektual tetap berada di tangan manusia.
Editor : Aditya Novrian