BATU, RADAR BATU – Fenomena short attention span atau rentang perhatian pendek kini mulai melanda kalangan pelajar. Kebiasaan mengonsumsi konten digital berdurasi singkat di media sosial dinilai memengaruhi kemampuan fokus generasi muda saat belajar di kelas.
Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menyajikan konten cepat yang berganti dalam hitungan detik. Kondisi ini membentuk kebiasaan baru di kalangan generasi muda yang terbiasa mengonsumsi informasi secara instan.
Sebuah penelitian menemukan bahwa pelajar yang menggunakan TikTok lebih dari dua jam sehari mengalami gangguan konsentrasi belajar. Gangguan tersebut bahkan mencapai 40% dari total waktu belajar mereka.
Baca Juga: Ini Alasan Buku Fiksi Bisa Mengasah Empati Siswa
Studi itu juga mengidentifikasi bahwa pelajar membutuhkan waktu 15 - 30 menit untuk memulihkan fokus. Pemulihan fokus ini diperlukan setelah mereka selesai menggunakan platform media sosial tersebut.
Akibat kebiasaan berpindah konten dengan cepat, sejumlah pelajar mengaku menjadi lebih mudah terdistraksi saat belajar. Konsumen video pendek bahkan tercatat 2,5 kali lebih mungkin meninggalkan konten edukatif berdurasi panjang di tengah jalan.
Studi lain mengenai short-form video memperkuat temuan ini. Konsumsi video singkat sebelum belajar terbukti memengaruhi perhatian dan proses pemahaman materi.
Baca Juga: Ini Alasan Olahraga Rutin Bikin Siswa Makin Pintar di Sekolah
Meski demikian, penggunaan media digital tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi pelajar. Konten singkat tetap membantu mereka memperoleh informasi secara cepat dan praktis jika digunakan secara bijak.
Pengamat pendidikan menilai tantangan utama saat ini adalah pengaturan waktu penggunaan teknologi. Pelajar dan mahasiswa harus mampu mengatur waktu penggunaan media sosial agar tidak mengganggu konsentrasi belajar serta aktivitas akademik sehari-hari.
Editor : Aditya Novrian