Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Krisis Guru Pendamping di Kota Batu, 1 GPK Terpaksa Tangani hingga 27 Siswa ABK

Rori Dinanda Bestari • Senin, 1 Juni 2026 | 14:30 WIB
Seorang guru mengajar di depan kelas (sumber: Masoem University)
Seorang guru mengajar di depan kelas (sumber: Masoem University)

 

BATU, RADAR BATU - Program pendidikan inklusi di Kota Batu masih menghadapi tantangan serius. Di tengah meningkatnya jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) yang masuk sekolah reguler, ketersediaan Guru Pendamping Khusus (GPK) justru jauh dari ideal.

Bahkan, satu GPK saat ini bisa menangani hingga 27 siswa ABK sekaligus. Padahal, standar pendampingan yang dianjurkan hanya satu guru untuk maksimal lima siswa berkebutuhan khusus.

Kondisi tersebut terjadi di SMP Diponegoro Batu. Sekolah itu saat ini menampung 27 siswa inklusi dengan beragam kebutuhan, mulai dari tunagrahita, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), autisme, hingga gangguan psikologis lainnya.

BACCA JUGA: Menguji Adrenalin di Pujon Rafting dengan Lintasan Sungai Pegunungan

Kepala SMP Diponegoro Batu Yuni Purwaningsih mengakui keterbatasan tenaga pendamping membuat sekolah harus melakukan berbagai penyesuaian.

“Kami hanya memiliki satu GPK untuk mendampingi 27 siswa ABK. Tentu jauh dari kondisi ideal,” ujarnya.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, sekolah menerapkan sistem pemisahan kelas berdasarkan tingkat kebutuhan siswa.

BACA JUGA: Resmi Menikah, Gaya Pernikahan Adhisty Zara dan Tsaqib Mengusung Modern Chic Sederhana Tuai Sorotan

Anak dengan hambatan berat ditempatkan pada kelas khusus, sementara siswa dengan hambatan ringan tetap belajar bersama siswa reguler.

Selain itu, target pembelajaran juga dimodifikasi agar sesuai kemampuan masing-masing siswa.

“Kalau siswa reguler ditarget sampai angka 10, siswa ABK mungkin hanya sampai angka 6. Yang penting mereka berkembang sesuai kemampuan,” jelas Yuni.

BACA JUGA: Prakiraan Cuaca Kota Batu Senin 1 Juni 2026, Kabut dan Awan Dominasi Sejak Pagi hingga Malam 

Kepala Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang SD Disdik Kota Batu Lendy Hedipuma membenarkan masih terjadi defisit GPK di sejumlah sekolah penyelenggara pendidikan inklusi.

Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah minimnya lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang tersedia di daerah.

“Rasio idealnya satu GPK maksimal mendampingi lima siswa. Untuk kondisi tertentu bahkan harus satu guru satu siswa,” katanya.

BACA JUGA: Jelajah Kuliner Pujon, Jangan Lewatkan Tiga Warung Legendaris yang Masih Bertahan

Sebagai solusi sementara, Disdik memberikan pelatihan dasar penanganan ABK kepada guru kelas reguler. Tahun lalu sekitar 50 guru telah mengikuti pelatihan tersebut.

“Kami berupaya memperkuat kapasitas guru reguler sambil terus mendorong pemenuhan kebutuhan GPK,” tambahnya. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#siswa abk #guru pendamping #pendidikan #kota batu