BATU, RADAR BATU – Pernah merasa sulit menentukan pilihan sederhana setelah seharian beraktivitas? Misalnya bingung memilih tugas mana yang harus dikerjakan lebih dulu, menentukan menu makan siang, atau bahkan memilih film untuk ditonton. Kondisi ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan.
Decision fatigue adalah kondisi ketika kualitas pengambilan keputusan menurun setelah seseorang membuat terlalu banyak pilihan dalam satu hari. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah lelah secara mental, sulit fokus, dan cenderung mengambil keputusan secara terburu-buru atau justru menundanya.
Terlalu Banyak Pilihan Bisa Membuat Otak Lelah
Dilansir dari laman decision fatigue terjadi karena kemampuan kognitif seseorang semakin berkurang setelah terus-menerus digunakan untuk mengambil keputusan. Semakin banyak pilihan yang harus dibuat, semakin besar pula beban mental yang dirasakan.
Baca Juga: Fenomena People Watching di Kalangan Siswa, Duduk Diam Sambil Mengamati Sekitar Jadi Pelepas Penat
Dalam kehidupan siswa, keputusan yang tampak sederhana ternyata dapat menumpuk sepanjang hari. Mulai dari memilih pakaian, menentukan tugas yang harus diselesaikan lebih dulu, membalas pesan teman, hingga memutuskan apakah akan belajar atau beristirahat.
Kondisi ini semakin terasa di era digital. Laman ReachLink menjelaskan bahwa notifikasi ponsel, media sosial, layanan streaming, hingga berbagai aplikasi membuat seseorang harus membuat lebih banyak keputusan dibandingkan sebelumnya. Setiap notifikasi yang muncul sebenarnya menuntut otak untuk memilih: dibuka sekarang, ditunda, atau diabaikan.
Sulit Fokus dan Cenderung Menunda Tugas
Saat mengalami decision fatigue, seseorang biasanya merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan mengalami brain fog atau pikiran terasa berkabut. Akibatnya, mengambil keputusan sederhana pun terasa lebih sulit dari biasanya. Ketika otak mulai kelelahan, seseorang cenderung mencari jalan pintas dalam mengambil keputusan. Mereka lebih mudah memilih opsi yang paling mudah, mengikuti kebiasaan lama, atau bahkan menunda keputusan sama sekali.
Pada siswa, kondisi ini bisa terlihat ketika mereka terus menunda mengerjakan tugas karena bingung harus memulai dari mana. Ada pula yang akhirnya memilih menghabiskan waktu bermain gawai karena merasa terlalu lelah untuk menentukan prioritas belajar.
Baca Juga: Siswa Menjadi Mudah Sensitif saat Kurang Istirahat, Ini Dampaknya
Penting Mengelola Energi Mental
Meski terdengar serius, decision fatigue sebenarnya dapat dikurangi dengan beberapa kebiasaan sederhana. Salah satunya adalah membuat rutinitas yang konsisten sehingga tidak perlu terus-menerus membuat keputusan yang sama setiap hari.
Dilansir dari The Decision Lab, tokoh seperti Barack Obama, Steve Jobs, dan Mark Zuckerberg diketahui sengaja menyederhanakan beberapa keputusan harian, seperti pilihan pakaian, agar energi mental mereka dapat digunakan untuk keputusan yang lebih penting.
Bagi siswa, cara serupa dapat dilakukan dengan membuat jadwal belajar yang teratur, menyiapkan perlengkapan sekolah sejak malam hari, atau menyusun daftar prioritas tugas. Dengan begitu, jumlah keputusan yang harus diambil setiap hari dapat berkurang. Selain itu, tidur yang cukup, makan teratur, dan memberikan waktu istirahat bagi diri sendiri juga membantu menjaga kemampuan berpikir tetap optimal.
Editor : Aditya Novrian