BATU, RADAR BATU – Fenomena toxic positivity mulai banyak dibicarakan di kalangan siswa dan remaja. Sikap yang memaksa diri sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir positif ini dinilai dapat berdampak buruk pada kesehatan mental jika dilakukan secara berlebihan.
Di lingkungan sekolah, toxic positivity sering muncul dalam bentuk ucapan yang terdengar menyemangati, tetapi justru membuat siswa merasa emosi mereka tidak dipahami. Kondisi ini banyak terjadi ketika siswa sedang menghadapi tekanan akademik, masalah pertemanan, hingga persoalan pribadi.
Siswa Kerap Diminta Selalu Berpikir Positif
Dilansir dari laman Gemagazine, toxic positivity merupakan kondisi ketika seseorang merasa harus selalu berpikir positif meski sedang mengalami kesedihan, kecewa, marah, atau tekanan emosional.
Baca Juga: 5 Fakta Pendidikan di Kota Malang yang Bikin Kota Ini Disebut Kota Pelajar
Psikolog klinis Dr. Jaime Zuckerman menjelaskan bahwa toxic positivity muncul ketika seseorang menganggap emosi negatif sebagai sesuatu yang salah. Akibatnya, siswa merasa tidak boleh sedih atau kecewa dan memilih memendam perasaannya sendiri.
Fenomena ini dinilai semakin sering terjadi di era media sosial. Banyak siswa melihat unggahan yang menampilkan kehidupan sempurna sehingga merasa harus selalu terlihat bahagia dan kuat. Tidak sedikit pula yang membandingkan masalahnya dengan orang lain lalu merasa bersalah ketika sedang sedih.
Selain itu, toxic positivity juga dapat muncul dari lingkungan terdekat seperti teman, keluarga, maupun sekolah. Ucapan seperti “harus tetap semangat”, “coba lebih bersyukur”, atau “orang lain lebih susah dari kamu” sering dianggap bentuk dukungan, padahal bisa membuat siswa merasa emosinya disepelekan.
Toxic Positivity Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental
Dilansir dari Alodokter, toxic positivity dapat membuat seseorang terus menolak emosi negatif yang sebenarnya normal dirasakan manusia. Padahal, rasa sedih, kecewa, marah, atau cemas perlu dikenali dan diekspresikan dengan sehat.
Baca Juga: Fenomena Multitasking di Kalangan Pelajar, Efektif atau Justru Mengganggu Konsentrasi?
Jika terus dipendam, kondisi ini dapat memicu stres berkepanjangan, gangguan tidur, kecemasan, hingga menurunkan kesehatan mental siswa. Beberapa siswa juga menjadi takut bercerita karena khawatir dianggap kurang bersyukur atau terlalu berlebihan.
Toxic positivity juga membuat siswa merasa harus selalu terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Akibatnya, mereka cenderung menyembunyikan masalah dan kesulitan mencari bantuan ketika sedang tertekan.
Selain itu, kebiasaan membandingkan masalah dengan orang lain juga dapat memperparah kondisi emosional siswa. Padahal, setiap individu memiliki pengalaman dan tekanan yang berbeda-beda.
Belajar Menerima Emosi Dinilai Lebih Sehat
Untuk menghindari toxic positivity, siswa dianjurkan mulai belajar menerima bahwa emosi negatif merupakan hal yang wajar. Merasa sedih, kecewa, atau lelah bukan berarti seseorang lemah.
Siswa juga dianjurkan lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaan kepada orang yang dipercaya, seperti orang tua, guru, teman dekat, atau konselor sekolah. Mendengarkan tanpa menghakimi dinilai lebih membantu dibanding sekadar memaksa seseorang untuk selalu berpikir positif.
Selain itu, mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial juga dapat membantu menjaga kesehatan mental. Siswa dianjurkan menggunakan media sosial secara bijak dan tidak menjadikannya standar kehidupan.
Jika tekanan emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, siswa disarankan tidak ragu berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional agar mendapatkan pendampingan yang tepat.
Editor : Aditya Novrian