BATU, RADAR BATU – Fenomena rasa insecure atau kurang percaya diri masih banyak dialami siswa, terutama pada masa remaja. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga dapat berdampak pada pergaulan, prestasi belajar, hingga aktivitas sehari-hari di sekolah.
Masa Remaja Rentan Mengalami Insecure
Dilansir dari laman Al Masoem, insecure merupakan perasaan cemas atau tidak aman terhadap diri sendiri yang terjadi secara terus-menerus. Kondisi ini berbeda dengan rasa gugup biasa karena dapat berlangsung dalam waktu lama dan memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Remaja menjadi kelompok yang paling rentan mengalami insecure karena berada dalam masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada fase ini terjadi perubahan fisik, emosional, hingga sosial yang membuat remaja lebih mudah merasa tidak percaya diri.
Selain itu, pengaruh media sosial juga dinilai menjadi salah satu pemicu utama. Banyak siswa merasa harus tampil sempurna seperti yang mereka lihat di internet. Tidak sedikit pula yang merasa tertekan akibat komentar negatif, perbandingan dengan teman sebaya, maupun tuntutan akademik di sekolah.
Baca Juga: Sulit Menolak Ajakan Teman Saat Banyak Tugas? Ini Upaya yang Dapat Dilakukan
Laman Al Masoem juga menyebutkan bahwa rasa insecure pada siswa dapat muncul karena berbagai faktor, seperti pengalaman trauma, ekspektasi yang terlalu tinggi, lingkungan pertemanan yang tidak sehat, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Penolakan dari lingkungan, seperti tidak diterima di sekolah impian atau merasa tidak dianggap dalam pergaulan, juga dapat memicu rasa tidak aman pada diri remaja. Sifat perfeksionis yang membuat siswa ingin selalu sempurna turut memperbesar rasa cemas ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan.
Kurang Percaya Diri Bisa Mengganggu Aktivitas Siswa
Perasaan insecure yang berlebihan dapat memengaruhi interaksi sosial siswa di sekolah. Beberapa siswa menjadi lebih pendiam, takut mencoba hal baru, hingga sulit menunjukkan kemampuan yang sebenarnya dimiliki.
Dilansir dari Alodokter, kurangnya rasa percaya diri dapat dipengaruhi oleh pola pengasuhan, lingkungan yang tidak kondusif, pengalaman buruk di masa lalu, hingga tekanan sosial. Jika tidak diatasi, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas belajar maupun hubungan sosial siswa.
Siswa yang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain juga cenderung lebih mudah stres dan kehilangan motivasi. Akibatnya, mereka menjadi sulit berkembang karena terus merasa kurang dibanding teman-temannya.
Selain itu, rasa insecure yang berlangsung lama dapat memicu kecemasan berlebihan dan memengaruhi kesehatan mental remaja.
Baca Juga: Konten Podcast Dapat Dimanfaatkan Pelajar untuk Menambah Pengetahuan di Luar Sekolah
Membangun Kepercayaan Diri Perlu Dilakukan Perlahan
Untuk mengurangi rasa insecure, siswa dianjurkan mulai belajar menerima dan menghargai diri sendiri. Mengingat pencapaian yang pernah diraih serta fokus pada perkembangan diri dinilai dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri.
Siswa juga dianjurkan memilih lingkungan pertemanan yang sehat dan mendukung perkembangan diri. Lingkungan yang positif dinilai dapat membantu siswa merasa lebih nyaman dan tidak mudah minder.
Selain itu, berpikir positif dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain juga menjadi langkah penting untuk mengurangi rasa insecure. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga tidak perlu merasa harus sama dengan orang lain.
Baca Juga: Terganjal Anggaran, Perbaikan 5 Halte di Kota Batu Molor
Melakukan aktivitas yang disukai atau meluangkan waktu untuk diri sendiri juga dinilai dapat membantu menjaga kesehatan mental remaja. Dukungan dari orang tua, guru, dan teman dekat pun berperan penting dalam membantu siswa menghadapi rasa tidak percaya diri.
Jika rasa insecure sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, siswa dianjurkan tidak ragu berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional agar mendapatkan pendampingan yang tepat.
Editor : Aditya Novrian