BATU, RADAR BATU – Berdasarkan informasi dari laman kemendikdasmen.go.id, burnout dapat muncul tanpa disadari dengan tanda-tanda seperti mudah lelah, sulit fokus saat belajar, kehilangan semangat sekolah, hingga perasaan kosong meski sedang beristirahat. Burnout juga dapat ditandai dengan menurunnya nilai dan munculnya rasa malas yang berkepanjangan.
Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab. Pelajar SMA kerap menghadapi berbagai tekanan sekaligus, mulai dari tugas sekolah yang menumpuk, jadwal kegiatan yang padat, tuntutan nilai tinggi, hingga ekspektasi orang tua yang besar. Selain itu, tekanan untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) juga menjadi faktor yang memperberat kondisi mental siswa. Akumulasi tekanan tersebut membuat banyak siswa merasa harus selalu tampil kuat dan berprestasi tanpa jeda.
Baca Juga: Pemkot Siapkan Aset untuk Shelter Perempuan dan Anak
Untuk mengatasi burnout, langkah yang dapat dilakukan tidak selalu rumit. Mengatur waktu istirahat, menjaga kualitas tidur, serta memberi jeda di antara aktivitas belajar menjadi hal penting. Pelajar juga dianjurkan untuk menyusun prioritas agar tidak semua tugas dikerjakan secara bersamaan. Selain itu, berbagi cerita dengan teman, guru, atau orang terpercaya dapat membantu mengurangi beban pikiran. Aktivitas sederhana seperti melakukan hobi juga berperan dalam memulihkan kondisi mental.
Pihak sekolah dan lingkungan sekitar turut memiliki peran penting dalam pencegahan burnout. Guru yang peka terhadap kondisi siswa, sistem pembelajaran yang seimbang, serta ruang komunikasi yang aman tanpa tekanan penilaian dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat. Pengurangan budaya membandingkan prestasi juga dinilai penting karena setiap siswa memiliki kemampuan dan proses yang berbeda.
Baca Juga: Tak Hanya Hiburan, TikTok Dapat Dimanfaatkan Siswa untuk Belajar.
Jika kelelahan mental berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, siswa disarankan untuk mencari bantuan dari guru bimbingan konseling atau tenaga profesional. Hal ini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan akademik yang terus meningkat.
Editor : Aditya Novrian