BATU, RADAR BATU Kasus perundungan di lingkungan sekolah masih menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Dalam situasi ini, peran guru menjadi sangat penting, terutama sebagai pihak yang berinteraksi secara langsung dengan siswa setiap hari
Peran tersebut tidak hanya sebatas mengawasi, tetapi juga menentukan bagaimana kasus perundungan ditangani sejak awal. Ketika seorang siswa berani melapor, respons guru menjadi penentu utama. Tanggapi kejadian ini dengan serius dan hargai keberanian anak yang melapor menjadi langkah awal yang ditekankan dalam panduan Laman Karier Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia. Sikap ini penting agar siswa merasa aman dan percaya bahwa sekolah adalah tempat yang melindungi mereka.
Baca Juga: Waspada! Cyberbullying Sangat Dekat, Ini Cara Cerdas Orang Tua Mendidik Anak Agar Aman di Dunia Maya
Lebih jauh, guru juga dituntut untuk menunjukkan empati serta meyakinkan korban bahwa kejadian tersebut bukan kesalahannya. Sayangnya, dalam persoalan ini, tidak sedikit kasus yang justru berakhir dengan nasihat singkat tanpa tindak lanjut yang jelas.
Penanganan bullying tidak cukup hanya dengan menegur pelaku. Guru perlu berbicara dengan setiap anak yang terlibat secara terpisah tanpa menyalahkan atau membentak, sekaligus memahami akar masalah yang terjadi. Selain itu, pengaruh teman sebaya juga tidak bisa diabaikan, karena bullying kerap terjadi dalam dinamika kelompok.
Baca Juga: Perundungan Bukan Bercanda, Saatnya Sekolah Jadi Ruang Aman untuk Generasi Bangsa
Langkah tegas juga perlu diambil. Tindakan terhadap pelaku harus disertai pembaruan kepada korban dan orang tua, serta tindak lanjut secara berkala untuk memastikan kasus benar-benar selesai.
Jika situasi semakin kompleks, guru tidak bisa bekerja sendiri. Melibatkan konselor sekolah atau tenaga profesional menjadi bagian penting dalam penanganan kasus yang lebih serius. Dengan pendekatan yang tepat, guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga garda terdepan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying.
Baca Juga: 35 Persen Lulusan SD Tak Tertampung di SMP Negeri Kuota Terbatas, Sistem Seleksi Diperketat
Editor : Aditya Novrian