BATU - Tiga sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kota Batu tercatat tidak menuntaskan finalisasi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) hingga batas akhir penutupan Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) pada 2 Januari lalu. Akibatnya, sekolah-sekolah itu otomatis gugur dari jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) tahun ini.
Berdasarkan data resmi SNPMB, tiga sekolah yang tidak melakukan finalisasi PDSS yakni SMKS 17 Agustus Batu, SMKS Edith Batu, dan SMKS Bhineka Tunggal Ika Indonesia. Ketiganya berstatus “belum mengisi” hingga penutupan sistem.
Meski demikian, jumlah sekolah yang absen SNBP tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu. Pada 2025, empat SMK di Kota Batu tercatat tidak finalisasi PDSS. Tahun ini, SMKS Muhammadiyah 1 Batu justru mulai ikut mendaftarkan siswanya untuk SNBP 2026.
Kepala Seksi SMK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu, Frenky Minggaryana Dwi Putra, menjelaskan tidak adanya finalisasi PDSS menunjukkan sekolah memang tidak berminat mengikuti SNBP. “Kalau statusnya belum mengisi, berarti dari awal sekolah tidak berkeinginan mendaftar SNBP,” ujarnya.
Menurut Frenky, faktor sosial-ekonomi menjadi salah satu penyebab utama. Mayoritas siswa di ketiga SMK tersebut berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi sehingga minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi relatif rendah. “Setiap tahun sekolah-sekolah ini juga tidak mendaftarkan diri ke SNBP,” katanya.
Ia mencontohkan SMKS Edith Batu yang berkonsep sekolah berasrama berbasis keagamaan. Sebagian besar siswanya merupakan anak rantau. Setelah lulus, mereka umumnya kembali ke daerah asal dan memilih langsung bekerja. “Modelnya boarding school Nasrani, jadi banyak siswa dari luar daerah,” bebernya.
Selain itu, jumlah siswa di masing-masing sekolah juga sangat terbatas. Dalam satu sekolah, jumlah peserta didik hanya berkisar empat hingga delapan siswa. Kondisi tersebut turut memengaruhi minimnya animo masuk perguruan tinggi negeri.
Fenomena ini, lanjut Frenky, cukup lazim di jenjang SMK. Dengan bekal keterampilan vokasi, banyak lulusan lebih memilih langsung bekerja atau membuka usaha mandiri ketimbang melanjutkan pendidikan formal. “Namun demikian, kami tetap mendorong siswa yang secara akademik dan ekonomi memungkinkan untuk mencoba masuk PTN,” tegasnya.
Tidak dilakukannya finalisasi PDSS oleh tiga SMK tersebut berdampak pada hilangnya kesempatan lima siswa yang sejatinya berstatus eligible SNBP. Rinciannya, satu siswa dari SMKS 17 Agustus Batu serta masing-masing dua siswa dari SMKS Edith Batu dan SMKS Bhineka Tunggal Ika Indonesia. (ori/dre)
Editor : Aditya Novrian