Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Menu Harian Pondok Pesantren Manba'ul Ulum Hajasi Kota Batu Berbasis Usulan Santri

Fajar Andre Setiawan • Senin, 20 Oktober 2025 | 16:23 WIB
PERAYAAN HARI SANTRI: Santri putri Pondok Pesantren Manba’ul Ulum Hajasi menyantap makanan dalam peringatan hari santri 2024 lalu.
PERAYAAN HARI SANTRI: Santri putri Pondok Pesantren Manba’ul Ulum Hajasi menyantap makanan dalam peringatan hari santri 2024 lalu.

Lembaga-Lembaga Pendidikan yang Siapkan Makan Sehat sejak Sebelum Ada MBG (9)

Sebelum pemerintah merealisasikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Pondok Pesantren Manba’ul Ulum Hajasi Kota Batu sudah menerapkan konsep serupa. Para santri cukup membayar Rp 500 ribu per bulan untuk belajar ilmu agama, fasilitas mukim, dan makan sehat dua kali sehari.

PELAKSANAAN makan bergizi di Pondok Pesantren Manba’ul Ulum Hajasi Kota Batu tampak spesial. Bukan karena jumlah porsi yang diproduksi fantastis. Namun, konsep demokratisasi yang diterapkan di sana. Menu yang disajikan setiap harinya berasal dari usulan santri. Kendati tetap melalui kurasi dari pengurus untuk memastikan nilai gizinya.

Menu yang dimasak tak terjadwal setiap sepekan atau dua pekan sekali seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebab, menu yang dimasak 3-5 santri itu disepakati pada hari itu juga. Jumlah tenaga memasak memang tak banyak. Sebab, jumlah santri ponpes hanya 38 orang saja. Terdiri atas santri SD hingga kuliah.

Petugas dapur hanya memasak dua kali saja dalam sehari. Yakni untuk sarapan yang dilakukan setelah salat duha dan makan sore yang dilakukan setelah salat asar. Alasannya karena para santri banyak beraktivitas di luar ponpes saat siang hari. Mulai dari sekolah hingga kuliah. Itulah mengapa tidak ada menu makan siang yang disiapkan di ponpes.

Para santri biasanya akan membeli makan siang di area sekitar tempat aktivitas. Menurut Pengasuh Ponpes Tahfidz Manba’ul Ulum Putri, Gus Imron Fathoni, itu juga sebagai upaya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Seperti yang ia lakukan dalam berbagai kebijakan di ponpes. Termasuk dalam proses pemasakan makanan di sana.

Dia mengaku selalu belanja kebutuhan pangan pelengkap di toko kelontong yang ada di sekitar ponpes. Sementara, untuk belanja bahan pokok seperti beras baru membeli di Pasar Induk Among Tani Batu. Imron menegaskan usulan menu makanan harian disampaikan santri kepada pengurus dan tim dapur. Lalu usulan itu lanjut disampaikan kepada Ibu Nyai.

Biasanya menu pagi disajikan makanan berkuah. Seperti sayur sop atau sayur santan dengan lauk tahu, tempe, telur, atau ayam. Untuk menu sore lebih fleksibel. Seperti nasi goreng, lalapan, atau menu simpel lainnya. “Ibu Nyai selalu memilihkan bahan pangan untuk memastikan kandungan gizi dan agar santri tidak bosan,” imbuhnya.

Tim dapur merupakan santri yang kini sedang menempuh pendidikan tinggi. Merekalah yang bertanggung jawab untuk urusan dapur. Itu dilakukan juga untuk melatih kemandirian santri dan tanggung jawab untuk saling menjaga terhadap sesama. Mereka pula yang biasa belanja ke pasar induk untuk membeli bahan pokok setiap seminggu sekali.

Uniknya, bahan pangan yang diolah tak selalu dari hasil membeli. Sebab, orang tua para santri juga sering membawakan sayur-mayur hasil pertanian sendiri. Biasanya hal itu dilakukan setiap kali masa panen. Sehingga, bahan itulah yang akan dimasak lebih dulu.

Gus Imron mengatakan selama ini tidak pernah ada kasus keracunan makanan.

Sebab, pengawasan kebersihan sudah dibagi tugas. Tim dapur akan memastikan kebersihan dan kelayakan makanan. Sedangkan, santri akan memastikan kebersihkan tempat makan masing-masing. Ya, mereka punya kotak makan sendiri-sendiri yang hanya digunakan setiap kali jam makan. Santri akan mencuci kotak masing-masing setelah selesai makan.

Terpisah, salah seorang santriwati Elva Najwa Salsabila mengaku selalu lahap mengonsumsi makanan yang disajikan pihak ponpes. Menurutnya, makanan yang disajikan layak. Apalagi mengingat dirinya hanya membayar biaya ponpes sebesar Rp 500 ribu saja per bulan. Itu sudah sekaligus untuk fasilitas mukim termasuk makan. “Rasanya enak, mirip masakan di rumah,” pungkas Najwa, siswi kelas 5 SD itu. (dia/dre)

Editor : A. Nugroho
#pondok pesantren #kota batu #Mbg