BATU - Sebanyak 50 pelajar mengikuti workshop pembuatan seni terakota dan kostum karnaval di museum dan galeri seni Kota Batu kemarin (4/12).
Workshop itu tidak ingin membekali keterampilan anak-anak muda untuk membuat kostum.
Namun, juga mendorong untuk melahirkan komunitas seniman pembuat kostum karnaval.
Sebab hingga kini masih belum ada komunitas seniman kostum karnaval yang eksis di Kota Batu.
Kepala Bidang Kebudayaan Disparta Kota Batu Sintiche Agustina Pamungkas mengatakan pembuatan kostum karnaval dinilai sangat potensial untuk mengasah kreativitas.
Selain itu, juga memiliki peluang usaha yang luas.
Mengingat kegiatan karnaval saat ini tidak hanya memeragakan kostum adat nusantara saja.
Namun, juga memeragakan kostum-kostum berukuran jumbo.
Seperti yang ditampilkan dalam event rutin tahunan di Jember Fashion Carnival (JFC).
Untuk itu, pembuatan kostum karna- val punya nilai ekonomi yang tinggi.
“Apalagi event karnaval di setiap desa di Kota Batu sudah seperti agenda wajib. Sehingga, produksi kostum karnaval oleh komunitas lokal tentu akan menjadi jujugan,” ungkapnya.
Sebab, selama ini banyak masyakat yang menyewa kostum dari Kota Malang dan Kabupaten Malang.
Harga sewanya pun tak main-main.
Bisa mencapai Rp 1 juta per kostumnya.
Untuk itu, Sintiche berharap setelah workshop berakhir bisa terbentuk komunitas seniman pembuat kostum karnaval.
Lebih lanjut, ia berharap komunitas tersebut bisa memproduksi kostum karnaval secara mandiri.
Tujuannya agar bisa dimanfaatkan oleh
masyarakat Kota Batu.
”Kita kan juga ada event Batu Flower Art Karnival,” ujarnya.
Workshop itu dilakukan selama dua hari pada 3-4 Desember kemarin.
Peserta berasal dari siswa SMA, SMK, dan MA. Rata-rata setiap sekolah mengirimkan dua perwakilan.
Hasil karya para siswa akan dipamerkan di muse- um 8 Desember nanti.
“Tahun depan kami berencana melombakan,” pungkasnya. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana