Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Trompet, Saham, dan Doa: Pesta Makna di Ujung Tahun

Kholid Amrullah • Rabu, 24 Desember 2025 | 12:05 WIB

Yani Andoko
Yani Andoko

Oleh: Yani Andoko

Ada sebuah kebisingan kolektif yang terjadi setiap akhir tahun. Dari Jakarta sampai New York, Tokyo sampai Berlin, suara yang sama bergema: “Merry Christmas and Happy New Year!” terpampang di mal-mal, toko-toko, dan layar ponsel. Lalu, ketika detik-detik penghujung tahun tiba, kota-kota disambar keriuhan tiupan trompet, dentuman petasan, dan cahaya kembang api yang menyayat langit malam. Di balik itu, pasar saham bergerak naik-turun, doa-doa dipanjatkan, dan harapan-harapan baru dicatat dalam resolusi.

Ini bukan sekadar tradisi. Ini adalah ritual global paling masif yang pernah diciptakan peradaban modern. Tapi apa sebenarnya yang kita rayakan? Dan mengapa kita merayakannya dengan cara perbedaan : antara doa dan saham, antara spiritualitas dan konsumsi?

Tergambar jelas: malam 31 Desember. Untuk beberapa jam, dunia masuk dalam “zona antistruktur”. Bos dan karyawan sama-sama meniup trompet murah di pinggir jalan. Status sosial mengabur. Kita semua menjadi peziarah waktu, berdiri di ambang pintu antara “yang lama” dan “yang baru”.

Antropolog Arnold van Gennep menyebut momen seperti ini sebagai fase liminal saat kita keluar dari struktur rutin, masuk ke ruang transisi, sebelum akhirnya kembali dengan identitas baru. Di masa lalu, ritual seperti ini sakral dan terpisah dari ekonomi. Kini, zona liminal kita adalah mall yang buka hingga tengah malam, promo akhir tahun, dan pesta kembang api yang disponsori merek rokok.

Lihatlah cara kita membelanjakan uang di akhir tahun. Menurut filsuf Georges Bataille, manusia punya dorongan primordial untuk “pemborosan suci”. Suku-suku kuno mengadakan potlatch pesta di mereka menghancurkan harta untuk menunjukkan kekuasaan dan berhubungan dengan yang ilahi.

Apa bedanya petasan yang kita bakar dengan pengorbanan hewan? Apa bedanya diskon 70% dengan persembahan kepada dewa? Kita masih melakukan ritual pengorbanan, hanya saja sekarang yang kita korbankan adalah uang, demi dewa bernama “Tahun Baru”.

Doa-doa kita pun bermigrasi. Kita masih berdoa di gereja atau masjid, tetapi kita juga “berdoa” melalui investasi saham memohon kepada kekuatan pasar yang tak terlihat agar tahun depan memberikan berkah finansial. Iman dan investasi menjadi dua sisi dari koin yang sama: pencarian keamanan dalam dunia yang tak pasti.

Metafora roller coaster yang Anda sebut sangat tepat. Hidup memang seperti wahana yang meliuk-liuk, naik-turun. Tapi ada ironi besar di sini: sementara kita teriak gembira di puncak kembang api, kita tahu bahwa roller coaster itu pada akhirnya akan berhenti. Kita sedang merayakan berlalunya waktu, padahal waktu itu sendiri sedang membawa kita menuju akhir.

Filsuf Albert Camus mungkin akan tersenyum melihat ini. Baginya, manusia adalah makhluk absurd berusaha mencari makna di alam semesta yang diam dan acuh. Teriakan trompet “tret tret treettt...”, dentuman petasan, resolusi yang ambisius semua itu adalah pemberontakan kita terhadap kesunyian kosmis. Kita menciptakan keributan agar tidak mendengar sunyi yang menakutkan.

Pernah merasa terpaksa bahagia di akhir tahun? Itu bukan kebetulan. Filsuf Prancis Michel Foucault mungkin menyebutnya sebagai “biopolitik kebahagiaan” negara dan korporasi bersama-sama menciptakan kewajiban untuk bergembira. Media membanjiri kita dengan gambar keluarga sempurna, pasangan romantis, dan pesta megah. Jika kita merasa sepi atau biasa saja, seolah-olah kita gagal memenuhi “tugas” sebagai manusia modern.

Guy Debord, filsuf lainnya, melihatnya sebagai “masyarakat spektakel”. Pengalaman langsung kita perasaan intim pergantian waktu telah digantikan oleh representasi : countdown di TV, ucapan tahun baru di Instagram, emoji kembang api di WhatsApp. Kita menonton perayaan kita sendiri, menjadi penonton sekaligus pemain dalam drama besar yang sudah disutradarai.

Di tengah semua simulasi ini, ada sesuatu yang tetap otentik: harapan. Ernst Bloch, filsuf Jerman, menulis tentang “prinsip harapan” sebagai kekuatan dasar manusia. Kita adalah makhluk yang selalu mengarah pada “yang-belum-menjadi”. Ketika kita bersulang pada tengah malam, kita sedang mengakui bahwa diri kita sekarang belum selesai, bahwa besok bisa menjadi lebih baik.

Masalahnya, kapitalisme telah menjadikan harapan itu sendiri sebagai komoditas. “Tahun baru, hidup baru!” tapi hidup baru itu harus dibeli: gym membership, kursus online, buku self-help, produk kecantikan. Harapan yang seharusnya bebas kini dikemas dan dijual kembali kepada kita.

Mungkin di situlah letak keindahan tiupan trompet “tret tret treettt...” .  Dalam semua kompleksitas ini saham, doa, kembang api, resolusi ada bunyi sederhana yang bisa dibuat siapa saja, dengan harga murah. Itu adalah suara manusia biasa, bukan konser megah yang dijual tiketnya. Suara yang kocak, sumbang, tapi hidup.

Di akhir semua analisis filosofis ini, mungkin yang tersisa adalah pengakuan sederhana : kita manusia adalah makhluk yang perlu percaya bahwa besok lebih baik. Kita butuh momen bersama untuk mengakui bahwa kita telah selamat melewati setahun lagi, dengan segala lukanya. Dan kita butuh cara entah melalui doa, teriakan, atau tiupan trompet untuk menyatakan bahwa kita masih ada, masih berharap, masih mampu bergembira meski tahu bahwa hidup adalah roller coaster yang suatu hari akan berhenti.

Jadi, ketika Anda mendengar “tret tret treettt...” lagi tahun ini, ingatlah : itu bukan sekadar bunyi. Itu adalah pemberontakan kecil terhadap absurditas, doa sekuler kepada waktu, dan undangan untuk terus bergerak meski kita tak tahu persis ke mana roller coaster bernama hidup ini akan membawa kita. Selamat tahun baru : selamat terus berharap dalam dunia yang sekaligus menjual dan membutuhkan harapan itu sendiri.

 * Penulis adalah anggota Pojka Pendiri Kota Batu dan mantan anggota DPRD Kota Batu periode 2009-2014 

Editor : Kholid Amrullah
#opini #happy new year #tahun baru #kota batu