RADAR MALANG - Gelaran Moto3 tak pernah seseru ini. Bahkan dari babak free practice (FP) dan kualifikasi, semuanya bisa sangat menegangkan. Hal ini karena aura bocah asal Gunungkidul, Jogjakarta, Veda Ega Pratama. Veda menjadi magnet bukan hanya bagi pecinta balap Tanah Air, tetapi juga penggemar MotoGP di seluruh dunia.
Bintang baru telah lahir. The Rocket Boy. Sang penakluk. Rising star. Performa gemilangnya dalam dua balapan terakhir di GP Thailand dan GP Brasil, jelas membuktikan kapasitasnya kepada publik.
Selalu jadi penunggang Honda tercepat, bahkan finish P3 di Sirkuit Ayrton Senna, Goiania, Brasil, si Belalang Tempur tampil memukau dan mampu mengoptimalkan setiap inchi setelan motornya.
Termasuk saat menjalani FP GP Amerika 2026 di Circuit of The Americas (COTA), Austin, Texas, Jumat ini (27/3). Veda yang tampil dengan nomor 9 menyala, jadi sorotan usai menembus jajaran Q2 di tengah kepungan dan dominasi motor-motor KTM. Remaja 17 tahun ini mampu meraih posisi 14 dan lolos dari lubang jarum batas kecepatan Q2.
V9, begitu dia biasa disapa jelas menggeber motornya dengan dewasa. Punya top speed 233,3 km per jam, Veda tampil percaya diri di sirkuit sepanjang 5,513 kilometer yang pernah jadi tuan rumah ajang balap F1 dan NASCAR ini.
Jika mekanik dan Veda bisa menemukan setelan yang pas, bukan tidak mungkin anak mantan pembalap nasional, Sudarmono ini bakal melesat dan bersaing di jajaran papan atas pembalap bersama Carpe atau Quiles. Dua pembalap yang bukan hanya berpengalaman tapi punya tunggangan yang istimewa.
Kisah Lintasan Modern dengan Spesifikasi Teknis dan Drama Balap Kelas Dunia
Di tengah hiruk-pikuk Austin, Texas, berdiri megah Circuit of the Americas (COTA). Sebuah sirkuit yang bukan hanya menghadirkan balapan, tetapi juga cerita.
Sejak dibuka pada 2012, lintasan ini menjadi simbol kebangkitan Formula 1 di Amerika Serikat—lengkap dengan karakter teknis yang membuatnya dicintai sekaligus ditakuti para pembalap.
Dirancang oleh Hermann Tilke, COTA bukan sekadar sirkuit modern biasa. Ia adalah kombinasi kompleks antara desain teknis canggih dan inspirasi dari lintasan legendaris dunia.
Untuk memahami mengapa COTA begitu menantang, penting melihat spesifikasi teknisnya:
- Panjang lintasan: ± 5,513 kilometer
- Jumlah tikungan: 20 tikungan
- Arah lintasan: Berlawanan arah jarum jam (anti-clockwise)
- Lebar lintasan: 15 meter (rata-rata)
- Perubahan elevasi: sekitar 40 meter (terutama di tikungan pertama)
- Jenis aspal: Campuran aspal halus dan abrasif yang dirancang untuk memberi grip tinggi namun tetap menguras ban.
Permukaan aspal di COTA sempat menjadi sorotan karena bergelombang (bumpy) akibat kondisi tanah di Texas. Hal ini membuat mobil sulit stabil, terutama di kecepatan tinggi, dan menjadi tantangan tambahan bagi pembalap serta tim.
Karakter Tikungan: Perpaduan Teknik dan Keberanian
Salah satu kekuatan utama COTA terletak pada desain tikungannya yang sangat variatif. Setiap sektor menghadirkan tantangan berbeda:
Tikungan 1: Ikon Elevasi Ekstrem
Tikungan pertama langsung menanjak tajam sebelum berbelok ke kiri. Terinspirasi dari Red Bull Ring, bagian ini sering menjadi titik overtaking paling dramatis karena pembalap harus mengerem sambil menanjak.
Sektor Esses Cepat (Tikungan 3–6)
Rangkaian tikungan cepat berliku ini mengadopsi gaya Silverstone Circuit. Di sini, keseimbangan mobil dan presisi menjadi kunci, karena pembalap melibas tikungan dengan kecepatan tinggi tanpa banyak pengereman.
Tikungan Teknis ala Suzuka
Beberapa bagian teknis COTA terinspirasi dari Suzuka Circuit, menuntut ritme yang konsisten dan kontrol penuh terhadap mobil.
Hairpin dan Heavy Braking Zone
Tikungan seperti Turn 11 menghadirkan model hairpin (tikungan tajam), yang memaksa pengereman keras sebelum akselerasi penuh di lintasan lurus panjang. Ini menjadi salah satu titik terbaik untuk menyalip.
Sektor Stadion
Bagian akhir lintasan memiliki tikungan lambat beruntun yang menguji traksi dan kesabaran pembalap sebelum memasuki garis finis.
Aspal dan Tantangan Ban
Jenis aspal di COTA dirancang untuk memberikan grip tinggi, tetapi juga terkenal abrasif. Artinya, ban lebih cepat aus dibandingkan beberapa sirkuit lain. Ditambah lagi dengan permukaan yang kerap bergelombang, pembalap harus benar-benar menjaga ritme agar tidak kehilangan kendali.
Kondisi ini membuat strategi pit stop menjadi krusial, terutama dalam balapan seperti Formula 1 United States Grand Prix.
Di setiap tikungan, selalu ada peluang. Di setiap lap, selalu ada drama. Dan di COTA, balapan tak pernah sekadar soal siapa yang tercepat, tetapi siapa yang paling mampu beradaptasi. (rm)
Editor : A. Nugroho