Emisi Karbon Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, Kenali Juga Bahaya Gas CO si “Silent Killer”

Nara Amelia • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 10:16 WIB
Peta Fire Emissions Watch menunjukkan Indonesia menempati peringkat pertama emisi karbon dari kebakaran hutan pada periode 8–14 Oktober 2026, dengan total emisi mencapai 3.174 kiloton karbon (kt C). Foto: Tangkapan layar Fire Emissions Watch
Peta Fire Emissions Watch menunjukkan Indonesia menempati peringkat pertama emisi karbon dari kebakaran hutan pada periode 8–14 Oktober 2026 dengan total emisi mencapai 3.174 kiloton karbon (kt C). Foto: Tangkapan layar Fire Emissions Watch

BATU, RADAR BATU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat Indonesia tercatat sebagai penghasil emisi karbon dioksida (CO2) akibat kebakaran tertinggi di dunia. Data Fire Emissions Watch dari layanan pemantau iklim Copernicus menunjukkan emisi Indonesia pada 1-7 September 2026 mencapai 19,7 juta ton, sekitar sepertiga total emisi sejenis di dunia. Intensitasnya melampaui 1.500 kilogram per kilometer persegi, lebih dari 10 kali lipat Rusia. Hingga 14 September, Indonesia masih berada di peringkat pertama.

Mengenal Karbon Monoksida (CO) dan Karbon Dioksida (CO2)

Di tengah angka itu, ada gas lain yang perlu diwaspadai, yaitu karbon monoksida (CO). Keduanya berbeda. CO2 adalah gas rumah kaca yang memperparah perubahan iklim. CO adalah gas beracun yang muncul dari pembakaran tidak sempurna. Menurut Manual MSD, asap kebakaran biasanya mengandung CO.

Baca Juga: Peta NASA Tunjukkan Langit Indonesia Memerah karena Gas CO, Apakah Udara yang Kita Hirup Berbahaya?

CO dijuluki silent killer karena tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Gas ini mengikat hemoglobin lebih kuat daripada oksigen sehingga sel tubuh kekurangan oksigen. Gejala awalnya sakit kepala, mual, pusing, lemas, dan sulit berkonsentrasi. Gejalanya mirip flu, tetapi tanpa demam. Orang yang tertidur bisa tidak menyadari keracunan sampai parah.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Muncul Gejala Keracunan Karbon Monoksida?

Segera pindah ke udara terbuka jika muncul gejala itu, jangan menyalakan genset atau kompor arang di ruang tertutup, dan periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika gejala tidak membaik.

Baca Juga: 174.694 Kasus ISPA Akibat Karhutla, 40 Ribu di Antaranya Balita

Editor : Aditya N. Rian
Sumber : Dari berbagai sumber
Karbon Monoksida karbon dioksida Fire Emissions Watch karhutla