Penggerebekan di dua kawasan yang selama ini dikenal rawan peredaran narkoba itu merupakan bagian dari operasi serentak di seluruh Indonesia. Operasi dipimpin Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Kristian P Siagian bersama Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso.
Kristian menyebut operasi tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto untuk memberantas peredaran narkotika hingga ke akarnya.
"Saat ini operasi kami lakukan di seluruh Indonesia. Serentak, arahan Presiden kepada Kapolri sudah jelas, kami maknai dan kami tidak akan tidur. Kami tidak akan tidur, masyarakat di hati kami. Kami akan berantas mata rantai narkoba," ujar Kristian di Kampung Ambon, Jakarta Barat, Jumat.
Menurut Kristian, sasaran aparat tidak berhenti pada pelaku di lapangan. Polri berupaya memutus jaringan hingga aktor utama yang mengatur pasokan dan meraup keuntungan dari bisnis gelap tersebut.
"Jangan hanya mengobati gejalanya, tapi hancurkan sumber penyakitnya agar aliran narkoba benar-benar terhenti," lanjut dia.
Ia juga menekankan pentingnya peran warga dalam memberantas peredaran narkotika di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
"Saat ini saya berada dengan Direktur Narkoba Polda Metro Jaya berada di Kampung Ambon. Kami meminta kerja sama dengan masyarakat. Kami ingin bersama-sama masyarakat untuk melakukan pemberantasan mata rantai narkoba," jelasnya.
Bismo menjelaskan, personel yang diterjunkan berasal dari berbagai unsur, mulai dari Brimob, Dalmas, satuan narkoba di tingkat Mabes, Polda, dan Polres, hingga TNI.
"Pada pagi hari tadi kami melaksanakan operasi secara simultan di dua titik, yaitu di Kampung Boncos dan juga di Kampung Ambon dengan kekuatan 700 personel, yaitu dari Brimob, Dalmas, dari Narkoba baik Polda, Mabes Polri, maupun Polres, kemudian dari TNI," kata Bismo.
Dari 24 orang yang diamankan, 16 di antaranya ditangkap di Kampung Ambon, sedangkan 8 orang lainnya di Kampung Boncos. Seluruhnya dibawa ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan dan tes urine guna memastikan dugaan penyalahgunaan narkotika.
"Aparat gabungan menangkap 24 orang yang diduga terkait dengan peredaran di Kampung Ambon dan Kampung Boncos, Jakarta Barat. Mereka ditangkap saat aparat melakukan penggerebekan hari ini," kata Kristian.
"Nah ini dari dua lokasi tersebut berhasil diamankan ya, sementara dalam penyelidikan, itu dari Kampung Boncos itu ada 8 orang, kemudian dari Kampung Ambon ada 16 orang," imbuh Bismo.
Penggerebekan tidak berjalan mulus. Sejumlah orang sempat berusaha kabur dengan menceburkan diri ke sungai, sebagian lain berlari ke lantai atas bangunan, sebelum akhirnya berhasil diamankan petugas.
Di Kampung Ambon, petugas mendapati sejumlah rumah dan bangunan semipermanen yang diduga kuat dijadikan lapak jual beli sekaligus tempat mengonsumsi narkoba di lokasi. Para pengedar juga diduga menyembunyikan barang haram di berbagai tempat, mulai dari rumah kontrakan, kamar indekos, hingga di dalam sepeda motor.
"Yang jelas yang kita dapati saat ini tadi secara fakta ada lapak ya, ada yang menyewakan bong-bong tersebut, kemudian ada yang menyimpan di kos-kosan, ada yang menyimpan di dalam motor, dan lain sebagainya," jelas Bismo.
Petugas menyita beragam barang bukti, di antaranya sabu, ganja, etomidate, timbangan, uang tunai, serta senjata tajam berupa panah, tombak, dan busur yang diduga disiapkan untuk melawan aparat.
"Nah, barang temuan di lokasi di antaranya ada sabu, ya, kemudian ada ganja, ada sajam, itu panah, tombak, busur. Kemudian etomidate, ada timbangan, ya. Nah itu tentu akan kita lakukan penyelidikan," ujar Bismo.
Penyisiran juga dibantu drone untuk memantau pergerakan para terduga pelaku. Dari pantauan udara itu, petugas menemukan empat koper yang disembunyikan di atas genting rumah warga. Petugas harus memanjat atap untuk mengamankan koper-koper tersebut.
Sejumlah bangunan yang digeledah ditemukan dalam kondisi terkunci rapat. Salah satu rumah berpagar biru bahkan ditutup tripleks. Di dalamnya, petugas menemukan bong dengan pipet, bungkus sabu, serta seorang pria yang diduga turut menjalankan lapak narkoba. Petugas juga mencongkel pintu rolling door sebuah ruko di seberangnya dan menemukan barang serupa, ditambah tumpukan STNK sepeda motor, emas, minuman keras, dan senjata tajam.
Sementara di Kampung Boncos, petugas menyita puluhan alat isap sabu yang dibuat dari botol plastik. Seluruh barang bukti kini diamankan di Polda Metro Jaya untuk penyelidikan lebih lanjut.
Di sisi lain, pengurus lingkungan mengaku kesulitan mengawasi para penghuni indekos yang diduga menjadi bagian dari jaringan tersebut. Ketua RW 07 Kelurahan Kedaung Kaliangke, Yeni Ritiau Napitupulu, menyebut banyak penghuni kos menghindari kewajiban lapor diri.
"Kalau ada orang datang, wajib lapor 1x24 jam dan serahkan data KTP. Tetapi kalau mereka kucing-kucingan, tidak memberikan laporan, ya kami enggak bisa bikin apa-apa," kata Yeni di lokasi, Jumat.
Yeni, yang telah 13 tahun menjabat Ketua RW, mengatakan pengurus lingkungan hanya bisa memantau tanpa kewenangan melakukan penindakan.
"Bahkan ketika saya tanyakan ke RT-nya dan jawabnya, 'Kita kadang-kadang datang, orangnya enggak ada', ya kami enggak bisa bikin apa-apa, seperti itu. Kami enggak bisa menindak apa pun. Karena bukan wewenang kami," jelasnya.
Ia menegaskan aktivitas peredaran narkoba di kawasan itu telah lama meresahkan warga, terutama karena kerap memicu keributan pada malam hari.
"Kalau narkoba enggak mengganggu, enggak mungkin bapak-bapak (polisi) semua datang kemari. Pasti kami jawab sangat mengganggu," tegas Yeni.
"Laporan dari warga, pasti ada. Ya sejenis keributan, karena mungkin berisik, sering laporan seperti itu," tuturnya.
Atas nama warga RW 07, Yeni menyampaikan apresiasi kepada aparat gabungan yang turun ke Kampung Ambon.
"Kami dari warga merasa berterima kasih ketika bapak-bapak dari aparat kepolisian atau siapa pun, mungkin dari BNN, disambangi kemari dalam konteks untuk menjaga ketertiban dan keamanan," ucapnya.
Namun, ia berharap pemberantasan narkoba tidak berhenti sebagai operasi sesaat.
"Saya berharap mulai dari atas sampai ke bawah sama-sama komitmen dan konsisten. Itu saja, Pak. Karena tidak ada satu unit pun atau satu orang pun yang sanggup jadi Superman menyelesaikan masalah narkoba," kata Yeni.
Yeni juga mengajak warga maupun pendatang di Kampung Ambon untuk meninggalkan narkoba dan memulihkan citra kawasan tersebut.
"Saya sampaikan di sini, hidup enggak bisa diandalkan dari uang seperti ini. Berhenti, punya harga diri. Kita bukan alat, kita bukan sarana untuk seperti ini. Bangkit," tutup Yeni.