Kesaksian Siswa SMPN 18 Malang: Ditampar 3 Kali Gegara Tak Pakai Lurik

Nara Amelia • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 15:21 WIB
SMPN 18 Malang. Foto: Ist
SMPN 18 Malang. Foto: Ist

BATU, RADAR BATU - Dugaan kekerasan terhadap siswa SMPN 18 Kota Malang mencuat setelah sejumlah siswa memberikan kesaksian terkait kejadian yang berlangsung pada Kamis (24/9/2026). Mereka mengaku mendapat perlakuan fisik setelah tidak mengenakan pakaian lurik yang dipersoalkan di sekolah.

Kesaksian dari Korban: Mengaku Ditampar Hingga 3 Kali Tanpa Diberi Kesempatan untuk Memberi Penjelasan 

Salah satu siswa berinisial S mengaku awalnya beberapa siswa dikumpulkan untuk ditanya mengenai pakaian yang mereka kenakan. Ia mengatakan tidak menyangka akan mendapat perlakuan fisik.

Menurut S, dirinya kemudian ditampar. Ia mengaku belum sempat menjelaskan alasan tidak mengenakan lurik ketika kembali mendapat tamparan.

Baca Juga: Krakatau “New Born”: Dua Pulau Baru Muncul Usai Erupsi Anak Krakatau

“Mau dijelasin enggak bisa, langsung ditampar lagi. Tiga kali,” ujar S saat memberikan kesaksian pada Jumat (25/9/2026). Ia mengaku tamparan tersebut cukup keras hingga membuat matanya memerah dan sempat merasa pusing.

Korban Mengaku Dirinya Belum Memiliki Pakaian Lurik

S mengatakan dirinya belum mengenakan lurik karena belum memiliki pakaian tersebut. Ia mengaku sebenarnya sudah membeli, tetapi keliru karena pakaian yang dibeli merupakan pakaian khusus perempuan. Ia menyebut hendak menjelaskan kondisi tersebut, tetapi menurut pengakuannya, dirinya langsung mendapat perlakuan fisik.

S juga mengaku aturan penggunaan lurik belum tercantum secara tertulis untuk siswa kelas VIII dan IX berdasarkan aturan yang diketahuinya. Menurutnya, ketentuan tersebut lebih ditujukan kepada siswa kelas VII yang baru masuk.

Kesaksian dari Korban Lain

Kesaksian lain disampaikan siswa berinisial W. Ia mengaku mengalami pemukulan ketika hendak bersalaman dengan guru. Menurut W, dirinya tiba-tiba ditarik dan dipukul pada bagian pipi setelah ditanya mengenai pakaian lurik.

W mengatakan dirinya sempat hendak menjawab pertanyaan tersebut, tetapi mengaku kembali mendapat pukulan. Ia juga menyebut saat itu baru kembali masuk sekolah setelah sakit selama sekitar tiga hari dan masih merasa pusing.

Baca Juga: Fenomena Langka: Kekeringan dan Bencana Hidrometeorologi Basah Mengancam Indonesia Bersamaan

Selain kesaksian mengenai dua siswa tersebut, terdapat pula laporan dari wali murid mengenai dugaan perlakuan fisik terhadap siswa lain. Namun, keterangan mengenai korban lain tersebut masih berupa pengakuan yang perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Kasus ini kemudian memicu aksi protes siswa dan wali murid di SMPN 18 Malang pada Jumat pagi. Pemerintah Kota Malang dan Dinas Pendidikan juga turun ke sekolah untuk meminta keterangan serta melakukan penanganan terhadap dugaan kejadian tersebut.

Editor : Aditya N. Rian
Sumber : Dari berbagai sumber
kekerasan fisik smpn 18 malang kepala sekolah