Krakatau “New Born”: Dua Pulau Baru Muncul Usai Erupsi Anak Krakatau

Nara Amelia • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 14:43 WIB
Kemunculan dua pulau baru setelah erupsi Anak Krakatau. Foto: x.com/joneshop
Kemunculan dua pulau baru setelah erupsi Anak Krakatau. Foto: x.com/joneshop

BATU, RADAR BATU - Fenomena baru muncul di kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Dua daratan yang kemudian teridentifikasi sebagai pulau baru terdeteksi di sektor barat laut dan tenggara Anak Krakatau setelah rangkaian erupsi pada awal September 2026.

Badan Geologi Kementerian ESDM mengonfirmasi keberadaan kedua pulau tersebut berdasarkan laporan pelaut dan relawan, serta analisis citra satelit Sentinel. Pulau pertama berada sekitar 760 meter dari pesisir Anak Krakatau, sedangkan pulau kedua berjarak sekitar 495 meter.

Baca Juga: BMKG Ingatkan Ancaman Megathrust, Ini yang Harus Kamu Lakukan Apabila Terjadi Gempa

Kemunculan daratan tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau yang berlangsung pada awal September. Badan Geologi mencatat erupsi menerus selama sekitar 25 jam, dari 4 September hingga 6 September 2026. Aktivitas tersebut menghasilkan aliran lava yang kemudian menambah luas tubuh gunung api.

Luas Gunung Anak Krakatau Bertambah Hingga 32,8 Hektare

Analisis citra satelit Sentinel menunjukkan adanya perluasan tubuh Gunung Anak Krakatau hingga 32,8 hektare. Material vulkanik yang keluar selama erupsi dapat menumpuk di sekitar tubuh gunung dan kawasan perairan dangkal, sehingga membentuk perubahan morfologi yang terlihat dari permukaan laut.

Belum Dipastikan Apakah Akan Muncul Gunung Api Baru

Meski demikian, kemunculan dua daratan tersebut belum berarti telah lahir gunung api baru. Badan Geologi masih membutuhkan data dan kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah kedua daratan itu merupakan pusat erupsi baru atau akumulasi material hasil erupsi sekunder.

Fenomena ini mengingatkan kembali pada sejarah Gunung Anak Krakatau sendiri. Gunung tersebut muncul dari kawasan kaldera Krakatau setelah letusan besar Krakatau 1883, dengan aktivitas pembentukan daratan yang mulai terlihat pada 1927 dan kemudian berkembang menjadi Anak Krakatau.

Baca Juga: Fenomena Langka: Kekeringan dan Bencana Hidrometeorologi Basah Mengancam Indonesia Bersamaan

Status Anak Krakatau Telah Turun Menjadi Level II (Waspada)

Saat ini status aktivitas Anak Krakatau telah diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) sejak 21 September 2026. Masyarakat dan wisatawan tetap dilarang melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi, sementara untuk dua pulau baru terdapat larangan beraktivitas dalam radius 1 kilometer.

Editor : Aditya N. Rian
Sumber : Dari berbagai sumber
Erupsi Gunung Anak Krakatau krakatau anak krakatau selat sunda