Tapir Betina Ditemukan Terjebak 800 Meter dari Tol, BKSDA Duga Keluar Hutan Cari Air Imbas Kemarau

Nara Amelia • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 15:00 WIB
BKSDA Bengkulu Selamatkan Tapir Terperosok di Saluran Air Kebun Sawit Mesuji. Dokumentasi: Kementerian Kehutanan
BKSDA Bengkulu Selamatkan Tapir Terperosok di Saluran Air Kebun Sawit Mesuji. Dokumentasi: Kementerian Kehutanan

BATU, RADAR BATU -  Seekor tapir betina (Tapirus indicus) ditemukan terperosok di saluran air kawasan perkebunan sawit milik PT Pematang Agri Lestari (PAL), Desa Suka Agung, Kecamatan Way Serdang, Kabupaten Mesuji, Lampung. Satwa dilindungi ini pertama kali terlihat berkeliaran di area perkebunan pada Minggu 920/9) pagi, sebelum akhirnya terjebak di saluran air sekitar pukul 14.00 WIB dan tak mampu keluar sendiri.

Baca Juga: Fenomena Langka: Kekeringan dan Bencana Hidrometeorologi Basah Mengancam Indonesia Bersamaan

Yang menjadi perhatian khusus, lokasi penemuan tapir ini ternyata hanya berjarak sekitar 800 meter dari ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung. Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung, Agung Nugroho, menegaskan kedekatan lokasi dengan jalan tol menjadi salah satu pertimbangan penting dalam proses penanganan. "Lokasi penemuan tapir berjarak kurang lebih 800 meter dari ruas Jalan Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung," ujarnya, Senin (21/9), sembari menegaskan pergerakan tapir menuju kawasan tol berpotensi membahayakan baik satwa itu sendiri maupun pengguna jalan.

Ditemukan Sejumlah Luka pada Tubuh Tapir yang Sedang Dievakuasi

Proses evakuasi melibatkan tim gabungan dari Seleksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Mesuji, hingga Polres Mesuji, dibantu puluhan warga dan pekerja perkebunan setempat. Satwa kini sudah dievakuasi ke Taman Kehati Mesuji untuk menjalani observasi dan perawatan lebih lanjut, mengingat ditemukan sejumlah luka pada tubuhnya saat proses penanganan.

Sempat Terekam Kamera BKSDA di Lokasi yang Berbeda, Diduga Sedang Mencari Air dan Pakan Akibat Kemarau Panjang

Musim kemarau panjang diduga menjadi faktor utama di balik kemunculan tapir ini. Kondisi kering yang melanda kawasan hutan produksi membuat satwa terdorong mencari sumber air dan pakan hingga mendekati pemukiman dan area perkebunan warga. Menariknya, kamera jebak BKSDA sebelumnya sempat merekam aktivitas dua ekor tapir di kawasan hutan produksi Register 45, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sungai Buaya, sekitar 14 km dari lokasi penemuan kali ini, meski belum bisa dipastikan apakah individu yang sama.

Baca Juga: Mengenal Monsun Australia, Fenomena di Balik Kekeringan Parah

Soal rencana pelepasliaran, Agung menegaskan keputusan baru bisa diambil setelah kondisi kesehatan tapir dinyatakan benar-benar layak, sekaligus mempertimbangkan aspek ekologis lokasi tujuan. Ia turut mengungkap adanya faktor tambahan yang perlu dipertimbangkan, yaitu konflik tenurial antara perusahaan dan masyarakat di sekitar lokasi penemuan, BKSDA mengimbau masyarakat untuk tidak mengejar, menangkap, atau memberi makan sembarangan pada satwa liar yang ditemukan, serta segera melapor ke petugas jika kembali menjumpai tapir maupun satwa dilindungi lainnya di sekitar pemukiman.

Editor : Aditya N. Rian
Sumber : Dari berbagai sumber
kekeringan Lampung tapir kemarau