BATU, RADAR BATU - Kondisi kemarau panjang yang melanda Indonesia sepanjang 2026 ternyata punya "dalang" utama, yaitu Monsun Australia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan fenomena angin musiman ini jadi pemicu utama cuaca kering, suhu dingin di malam hari, sekaligus ancaman kekeringan yang kini melanda berbagai wilayah.
Apa itu Monsun Australia?
Monsun Australia adalah angin musiman yang bertiup dari Benua Australia menuju utara, melewati Indonesia. Sifatnya kering dan cukup dingin, karena berasal dari Australia yang tengah mengalami musim dingin di periode Juni-September. "Dalang utamanya adalah monsun Australia. Angin musim yang kering ini menyapu uap air dan mengurangi pembentukan awan di langit kita," demikian penjelasan resmi BMKG.
Baca Juga: BMKG Rilis Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis, Ini Daftar Wilayah Berstatus Awas
Dampaknya terasa di berbagai sektor. Selain memicu suhu dingin di malam hingga pagi hari (fenomena yang dikenal sebagai "bediding"), Monsun Australia juga dalang dari meningkatnya risiko kekeringan yang berdampak langsung ke ketersediaan air dan sektor pertanian, sekaligus mempertinggi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah-wilayah rawan.
Kombinasi Monsun Australia dengan El Nino berintensitas kuat membuat dampaknya makin terasa parah tahun ini. Berdasarkan data Kementerian Sekretariat Kabinet, tercatat 492 lokasi kekeringan di seluruh Indonesia, terdiri dari 105 lokasi area persawahan seluas 22.210 hektare, dan 387 lokasi permukiman yang berdampak pada 155.228 jiwa warga yang kesulitan air bersih.
Selain Penyebab Kekeringan, Monsun Australia Juga Memicu Hujan Lebat
Menariknya, meski fenomena ini identik dengan kekeringan, Monsun Australia justru juga bisa memicu hujan lebat di sejumlah wilayah, khususnya di selatan ekuator Indonesia. Angin timuran yang cukup kencang turut berpotensi meningkatkan gelombang laut di perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara, sehingga perlu diwaspadai pelaku pelayaran dan nelayan.
Baca Juga: BNPB Catat 1.730 Bencana Sepanjang 2026, Karhutla dan Banjir Paling Dominan
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramadhani, menegaskan meski fenomena ini wajar terjadi setiap tahun, masyarakat tetap perlu waspada. "Meskipun fenomena ini wajar terjadi setiap tahun, masyarakat tetap perlu bijak menggunakan air, memantau informasi resmi BMKG, dan waspada terhadap potensi cuaca ekstrem," ujarnya.
BMKG memprediksi puncak dampak Monsun Australia ini berlangsung hingga akhir September 2026, beberapa wilayah seperti Sulawesi Utara bahkan sudah menetapkan status Siaga hingga Awas kekeringan meteorologis akibat kombinasi fenomena iklim global dan regional yang saling memperkuat satu sama lain.
Editor : Aditya N. RianSumber : Dari berbagai sumber