Waduk-Waduk Indonesia Mengering, dari Sekadar Susut Sampai Berubah Jadi Lahan Pertanian

Nara Amelia • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 16:00 WIB
Ilustrasi Dampak Kekeringan bagi Petani. Foto: Ist
Ilustrasi Dampak Kekeringan bagi Petani. Foto: Ist

BATU, RADAR BATU - Musim kemarau panjang tahun ini benar-benar menguji kapasitas waduk dan bendungan di berbagai penjuru Indonesia. Beberapa bahkan mengalami penyusutan begitu ekstrem, hingga permukiman lama yang dulu tenggelam kembali muncul ke permukaan.

Bendungan Karian, Lebak, Banten

Fenomena paling mencolok terjadi di sini, tepatnya di Kampung Somang. Puing-puing rumah yang sebelumnya terendam air bendungan kembali terlihat menyembul akibat debit air yang menyusut. Meski begitu, Kementerian PU memastikan ketersediaan air masih mencukupi kebutuhan irigasi dan air baku warga, bendungan ini tetap melepaskan debit 24 meter kubik per detik untuk suplai ke Daerah Irigasi Ciujung.

Baca Juga: Krisis Air Bersih Kini Menjalar sampai Jakarta, Ini Daftar Wilayah yang Ikut Terdampak

Bendungan Katulampa, Bogor

Penurunan debit di titik ini berimbas langsung ke pasokan air baku Perumda Tirta Pakuan yang melayani Jabodetabek. Wali Kota Bogor Dedie Rachim bahkan sudah meminta perusahaan air setempat menyiapkan mitigasi lewat distribusi air bersih via mobil tangki jika gangguan pasokan makin parah.

Bendungan Karet Sungai Juwana, Pati

Kondisinya lebih memprihatinkan lagi, benar-benar kering kerontang. Dampaknya nyata, yaitu sekitar 1.538 hektare tanaman padi di 21 desa di Kabupaten Pati masih kekurangan pasokan air memadai meski sebagian sudah ditangani lewat penggelontoran air darurat. Pemkab Pati kini menggantungkan harapan pada percepatan pembukaan Waduk Kedungombo yang dijadwalkan mengalirkan air tambahan mulai 15 September 2026.

Bendungan Wilalung, Kudus

Kondisi dasar bendungan ini terpantau kering total akibat kemarau panjang, sejalan dengan status yang ditetapkan BMKG, yaitu sebanyak 25 kabupaten/kota di Jawa Tengah masuk kategori Awas kekeringan meteorologis pada periode 1-10 September 2026, kategori paling kritis, ditandai tidak turun hujan selama minimal 61 hari berturut-turut.

Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri

Ini bukan kejadian baru, melainkan fenomena berulang setiap tahun. Waduk yang dibangun 1976-1981 dan awalnya menenggelamkan 51 desa ini kini berubah jadi lahan pertanian dadakan bagi warga sekitar yang menanam padi, jagung, dan sayuran di area yang biasanya jadi dasar waduk. Selain kemarau, sedimentasi bertahun-tahun turut memperparah pendangkalan.

Bendungan Benanga, Samarinda

Kondisi di sini relatif lebih terkendali. Meski debit air mulai menurun dan jadi perhatian, Perumdam Tirta Kencana Samarinda memastikan status pasokan masih di level "Strategi Normal", dari empat tingkatan yang mereka miliki (Normal, Waspada, Siaga, Kritis).

Baca Juga: BMKG Rilis Peringatan Kekeringan , Ini 7 Langkah Antisipasi yang Bisa Kamu Mulai dari Sekarang

Secara nasional, BMKG mencatat kondisi kering makin meluas sepanjang periode 27 Agustus-2 September 2026, seiring puncak musim kemarau di berbagai wilayah. World Resources Institute (WRI) bahkan mencatat lebih dari separuh populasi Indonesia kini menghadapi tingkat water stress tinggi hingga sangat tinggi, menandakan krisis air bukan lagi ancaman masa depan, melainkan tantangan yang harus dikelola serius mulai sekarang.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dari berbagai sumber
el nino kekeringan kemarau ekstrem waduk