Krisis Air Bersih Kini Menjalar sampai Jakarta, Ini Daftar Wilayah yang Ikut Terdampak

Nara Amelia • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 12:35 WIB
Ilustrasi Kekeringan. Foto: Shutterstock/Piyaset
Ilustrasi Kekeringan. Foto: Shutterstock/Piyaset

BATU, RADAR BATU - Selain terjadinya krisis air di Makassar, ternyata masalah serupa kini menjalar ke banyak wilayah lain di Indonesia, bahkan sampai ke Ibu Kota sendiri. El Nino yang tercatat berintensitas sangat kuat membuat musim kemarau tahun ini terasa jauh lebih menyiksa dibanding biasanya.

Baca Juga: BMKG Rilis Peringatan Kekeringan , Ini 7 Langkah Antisipasi yang Bisa Kamu Mulai dari Sekarang

Jakarta

Yang paling mengejutkan, krisis air kini mulai dirasakan warga di kawasan Meruya (Jakarta Barat), Pondok Labu (Jakarta Selatan), dan Cilandak. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku sudah menerima laporan kekeringan di beberapa kelurahan dan langsung menyalurkan bantuan air darurat. Ironisnya, upaya modifikasi cuaca yang biasanya jadi andalan pemerintah justru gagal dilakukan karena kondisi atmosfer yang terlalu kering untuk direkayasa jadi hujan.

Jawa Barat

Kondisinya lebih parah lagi, 15 kabupaten/kota terdampak dan lebih dari 205 ribu warga merasakan dampaknya. Kota Tasikmalaya sendiri sudah mendistribusikan 1,1 juta liter air bersih ke 16.637 KK atau setara 53.934 jiwa di 10 kecamatan dan 39 kelurahan. Sementara itu, Kota Banjar mencatat 20 titik krisis air, dengan dua wilayah baru (Desa Rejasari dan Dusun Awiluar) baru saja masuk daftar terdampak.

Jawa Timur

Kabupaten Lumajang jadi salah satu yang paling parah, 14.809 jiwa di 12 desa dan 4 kecamatan terdampak kekeringan. Pemkab setempat bahkan sudah menetapkan status Tanggap Darurat selama 90 hari (10 Juli-7 Oktober 2026), dengan 19 desa lain diperkirakan bakal menyusul terdampak.

Sumatera Selatan

Tujuh wilayah, yakni PALI, Musi Banyuasin, OKU Timur, Banyuasin, Ogan Ilir, OKI, dan Muara Enim, resmi berstatus Awas kekeringan, sementara Palembang dan Prabumulih berstatus Siaga. Warga Sekayu bahkan sampai harus membeli pasokan air PDAM karena sumur mereka mengering.

Sulawesi Utara

Kondisi di sini tergolong paling ekstrem, seluruh 15 kabupaten/kota di provinsi ini masuk kategori Awas atau Siaga kekeringan, tanpa terkecuali. BMKG mencatat curah hujan Agustus 2026 sebagai yang terkering kedua sejak 1991, dengan hampir 84 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah.

Sumatera Barat

Kabupaten Dharmasraya mencatat 13.554 KK terdampak krisis air, mendorong Bupati setempat membentuk Satuan Tugas khusus Penanganan Kemarau, lengkap dengan pengerahan 16 unit mobil tangki dan rencana pembangunan sumur bor permanen bersama BNPB.

Baca Juga: BMKG Rilis Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis, Ini Daftar Wilayah Berstatus Awas

BMKG memprediksi puncak musim kemarau berlangsung hingga akhir Oktober 2026, El Nino diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Artinya, krisis air bersih ini kemungkinan besar belum akan mereda dalam waktu dekat, dan berpotensi terus meluas ke wilayah-wilayah lain yang belum masuk daftar terdampak.

 

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dari berbagai sumber
el nino kekeringan jawa jakarta