BATU, RADAR BATU - Indonesia memiliki catatan panjang soal gempa megathrust dahsyat, Tsunami Aceh 2004 menjadi luka paling dalam yang pernah dialami bangsa ini. Tapi di balik tragedi besar itu, ada pelajaran berharga yang akhirnya mengubah cara Indonesia menghadapi ancaman gempa hingga hari ini.
Pagi yang Mengubah Segalanya, Kronologi Terjadinya Tsunami Aceh 2004 Silam
26 Desember 2004, pagi yang tenang di Aceh berubah jadi mimpi buruk. Gempa magnitudo 9,1-9,3 mengguncang dari kedalaman 30 km di bawah laut, 160 km utara Pulau Simeulue. Bagian utara megathrust Sunda patah sepanjang 1.300 km sekaligus, salah satu retakan lempeng terpanjang yang pernah tercatat dalam sejarah gempa dunia.
Baca Juga: 14 Zona Megathrust Kepung Indonesia, Ini Daftar Wilayah yang Perlu Waspada
Energi yang dilepaskan begitu masif, gelombang tsunami melaju dengan kecepatan hingga 800 km/jam di tengah laut. Hanya dalam hitungan menit, Banda Aceh dan Meulaboh terendam air. Getaran dan gelombangnya bahkan dirasakan hingga Bangladesh, India, Malaysia, Myanmar, Thailand, Singapura, sampai Maladewa. Total sekitar 230.000 jiwa melayang dalam bencana ini, dengan kerugian finansial ditaksir mencapai USD14 miliar atau sekitar Rp51,4 triliun.
Aceh Bukan Satu-Satunya Luka dari Megathrust Indonesia
Dalam tiga dekade terakhir, sejumlah gempa besar lain juga bersumber dari zona serupa: Gempa Biak (1996), Gempa Banyuwangi (1994), Gempa Nias (2005), Gempa Pangandaran (2006), Gempa Bengkulu (2007), hingga Gempa Mentawai (2010). Semuanya jadi pengingat bahwa jalur megathrust Indonesia, dari Aceh hingga Sumba, memang wilayah yang secara historis sangat aktif.
Menariknya, dua kejadian tsunami besar lain di Indonesia, Palu (2018) dan Selat Sunda (2018), justru bukan disebabkan gempa megathrust secara langsung. Tsunami Palu dipicu longsor bawah laut usai gempa M7,5, sementara Tsunami Selat Sunda dipicu runtuhnya sisi dinding Gunung Anak Krakatau. Fakta ini menunjukkan betapa kompleksnya ancaman bencana di Indonesia, tidak melulu soal satu jenis sumber gempa saja.
Baca Juga: BMKG Ingatkan Potensi Megathrust Selat Sunda M8,9, Ini Daftar Persiapan Darurat yang Perlu Disiapkan
Sementara itu, jauh sebelum era pencatatan modern, sejarah juga mencatat pecahnya megathrust Selat Sunda pada 1757, silam yang hingga kini masih jadi salah satu "seismic gap" paling disorot bersama Mentawai-Siberut (1797) karena sudah ratusan tahun tak kembali melepaskan energi besarnya.
Pelajaran yang Mengubah Sistem Penanggulangan Bencana Nasional di Indonesia
Tragedi Aceh 2004 mengungkap fakta pahit, yaitu rendahnya kesiapsiagaan Indonesia kala itu, khususnya di wilayah pesisir yang paling rentan. Namun dari puing-puing itu, lahir reformasi besar dalam sistem penanggulangan bencana nasional.
Beberapa perubahan signifikan pasca-2004 antara lain pembentukan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, pengesahan UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta pengembangan sistem peringatan dini tsunami InaTEWS yang terus disempurnakan hingga kini, termasuk penambahan gedung operasional cadangan di Bali sebagai antisipasi jika pusat operasional di Jakarta lumpuh.
Baca Juga: Viral Ramalan Pria Kanada, Frankie MacDonald, soal Gempa M9 Guncang Indonesia, Begini Kata BMKG
Paradigma penanganan bencana pun bergeser total, dari yang semula reaktif (menunggu bencana terjadi baru bertindak) menjadi preventif dan berbasis mitigasi. Dua dekade lebih usai tragedi itu, para ahli terus mengingatkan: mengetahui sejarah kelam ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk memastikan Indonesia tak pernah lagi seunprepared seperti pagi di Desember 2004 itu.
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dari berbagai sumber