BATU, RADAR BATU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan publik soal potensi gempa megathrust di zona Selat Sunda yang diperkirakan bisa mencapai magnitudo 8,9 disertai potensi tsunami. Peringatan ini disampaikan di tengah meningkatnya perhatian publik usai gempa M5,9 mengguncang kawasan Kepulauan Seribu pada 12 September 2026.
Dua Segmen Megathrust Utama di Indonesia: Mengenal Istilah Seismic Gap
Perlu digarisbawahi, gempa Kepulauan Seribu itu bukan bagian dari megathrust, BMKG memastikan itu jenis gempa dalam (intraslab) yang tidak berpotensi tsunami. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan konsentrasi kekhawatiran sebenarnya tertuju pada dua segmen yang disebut "seismic gap", yaitu zona sumber gempa yang belum melepaskan energi besarnya dalam waktu sangat lama. "Wilayah Selatan Banten dan Selat Sunda mengalami kekosongan gempa besar sejak tahun 1757 (269 tahun). Sedangkan wilayah Mentawai dan Siberut mengalami kekosongan gempa besar sejak tahun 1797 (229 tahun)," ujarnya.
Baca Juga: Gempa dari Kepulauan Seribu Terasa hingga Malang, BMKG Ungkap Penyebabnya
Jika skenario terburuk terjadi di Selat Sunda, data BRIN memperkirakan gelombang tsunami butuh sekitar 2,5 jam untuk mencapai pesisir utara Jakarta dengan tinggi gelombang sekitar 0,5 meter. Sementara di pesisir Banten dan Jawa Barat, tinggi gelombang diperkirakan bisa melampaui 1,5 meter. Guncangan gempa itu sendiri diperkirakan mencapai intensitas 6-7 MMI di Jakarta, cukup untuk merusak struktur bangunan akibat karakteristik tanah aluvial yang memperkuat getaran.
BMKG Menegaskan Bahwa Ini Adalah Potensi, Bukan Prediksi Pasti
Penting dicatat, BMKG menegaskan ini adalah potensi, bukan prediksi waktu pasti. "Kalau ternyata terjadi betul, itu kebetulan saja," tegas mantan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, menanggapi berbagai klaim viral yang mencatut nama BMKG soal ramalan gempa dahsyat akhir 2026 yang telah dipastikan hoaks oleh Tempo dan Tirto lewat fact-check resmi. BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak panik, dan beraktivitas normal seperti biasa, sembari tetap meningkatkan kesiapsiagaan mitigasi.
Berikut daftar persiapan darurat yang bisa disiapkan sebagai langkah antisipasi:
1.Tas Siaga Bencana
Siapkan satu tas berisi kebutuhan darurat yang mudah dibawa kapan saja, seperti senter dan baterai cadangan, radio portable, peluit, masker, sarung tangan, serta uang tunai secukupnya.
2. Persediaan Air dan Makanan
Simpan air minum kemasan dan makanan tahan lama (biskuit, makanan kaleng) yang cukup untuk 3 hari, per anggota keluarga.
3. Kotak P3K dan Obat Pribadi
Lengkapi dengan obat-obatan dasar, plester, antiseptik, serta obat rutin bagi anggota keluarga dengan kondisi kesehatan tertentu.
4. Dokumen Penting
Simpan fotokopi KTP, KK, sertifikat, dan dokumen penting lainnya dalam plastik kedap air, terpisah dari dokumen asli.
5. Rencana Evakuasi Keluarga
Tentukan titik kumpul keluarga dan jalur evakuasi tercepat menuju dataran tinggi, khususnya bagi yang tinggal di kawasan pesisir.
6. Sumber Informasi Resmi
Pastikan mengunduh aplikasi InfoBMKG dan mengikuti akun resmi BMKG di media sosial untuk mendapat info gempa dan peringatan dini tsunami tercepat dan akurat.
7. Perlengkapan Komunikasi Darurat
Siapkan power bank terisi penuh dan simpan nomor kontak darurat keluarga maupun instansi terkait (BPBD, SAR) dalam bentuk cetak, bukan hanya di ponsel.
Baca Juga: Update Kapal Virgo Hari Ini: 16 Penumpang KM Virgo Transport 8 Kembali Dievakuasi Pagi Ini
Editor : Aditya NovrianSumber : Dari berbagai sumber