Perbedaan Pendapat Badan Geologi vs BMKG soal Misteri Dentuman di Bandung

Nara Amelia • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 16:50 WIB
Gunung Anak Krakatau. Foto: Chani Badpra
Gunung Anak Krakatau. Foto: Chani Badpra

BATU, RADAR BATU - Fenomena suara dentuman dan getaran misterius yang mengguncang kaca-kaca rumah di Bandung Raya, Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari, ternyata memicu perbedaan analisis ilmiah antara dua lembaga resmi pemerintah. Dentuman yang terdengar sejak pukul 23.30 WIB hingga lewat pukul 03.00 WIB itu juga dilaporkan warga di Sumedang, Purwakarta, hingga Cianjur.

Badan Geologi: Erupsi Gunung Anak Krakatau?

Di satu sisi, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, meyakini dentuman berkaitan langsung dengan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berlangsung tepat pada rentang waktu yang sama, pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB. "Suara gemuruh dan dentuman yang dirasakan warga di sejumlah wilayah diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung bersamaan pada rentang waktu tersebut," ujarnya. 

Baca Juga: Tanggamus Diguncang 12 Gempa di Tengah Erupsi Hebat Anak Krakatau

Lana menjelaskan, meski jaraknya mencapai 700 kilometer garis lurus dari Bandung, gelombangnsuara dari letusan bisa merambat jauh lewat atmosfer akibat ekspansi cepat pelepasan gas serta gesekan aliran lava berkecepatan tinggi di konduit gunung. Lapisan atmosfer dan angin di ketinggian tertentu bisa membelokkan gelombang suara tersebut kembali ke permukaan bumi di lokasi yang jauh dari sumbernya.

BMKG: Fenomena Skyquake?

Namun, penjelasan ini dibantah BMKG Stasiun Geofisika Klas 1 Bandung, Ahli Meteorologi BMKG, Mujahidin, menegaskan secara perhitungan fisika, dentuman dari Selat Sunda mustahil mencapai Cekungan Bandung karena terhalang arah angin. "Arah pergerakan dari ketinggian 1,5 hingga 3 kilometer itu masih konsisten dari tenggara, sehingga pergerakannya itu mengarah ke arah barat," jelasnya, kecepatan angin pasat tenggara saat kejadian mencapai 40-58 km/jam, arah yang justru menjauhi Bandung.

Baca Juga: Viral Ramalan Pria Kanada, Frankie MacDonald, soal Gempa M9 Guncang Indonesia, Begini Kata BMKG

Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi, turut menegaskan fenomena ini lebih mungkin masuk kategori skyquake, yaitu dentuman keras misterius yang seolah berasal dari langit tanpa penyebab jelas. Meski begitu, BMKG mengakui terdapat anomali pada stasiun magnet bumi SKB dan SRG tepat pada rentang waktu erupsi Krakatau yang dicurigai berkaitan dengan aktivitas gunung tersebut, meninggalkan penjelasan yang belum sepenuhnya tuntas.

Fenomena dentuman jarak jauh seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah vulkanik Indonesia, kasus serupa pernah terjadi saat erupsi Gunung Kelud 2014 dan Anak Krakatau 2020. Hingga kini, publik masih menunggu kesimpulan final dan seragam dari otoritas terkait soal misteri dentuman yang sempat membuat resah warga Jawa Barat ini.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dari berbagai sumber
Bandung anak krakatau dentuman skyquake bmkg