BATU, RADAR BATU - Kasus dugaan keracunan massal usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur, terus menyita perhatian publik. Jumlah korban dilaporkan bertambah menjadi 566 orang, tidak hanya dari kalangan santri, tetapi juga siswa SD dan SMP yang menerima MBG dari satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang sama.
Kronologi Kejadian Keracunan MBG di Sidoarjo
Kasus ini bermula ketika ratusan santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, menyantap menu MBG pada Selasa (1/9) sekitar pukul 12.00-13.00 WIB. Sekitar tiga hingga enam jam kemudian, sejumlah santri mulai mengalami gejala mual, muntah, pusing, dan diare. Menu yang dikonsumsi saat itu terdiri dari nasi, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan apel.
Korban Mengaku Hingga Trauma Menyantap MBG
Salah satu orang tua santri, Siti Aminah, menceritakan baru mengetahui anaknya menjadi korban lewat media sosial. “Ini kan viral di TikTok, terus saya langsung telepon ustazahnya. Ternyata anak saya sudah dilarikan ke rumah sakit," ungkapnya. Ia mengaku anaknya kini trauma untuk kembali menyantap menu MBG, mengingat sebelumnya tidak pernah mengalami keracunan saat masih membeli makanan sendiri di kantin pondok.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, secara terbuka mengakui adanya kelalaian fatal dari petugas SPPG Kalitengah. Ia mengungkap adanya ketidaksesuaian waktu pengolahan dengan waktu konsumsi makanan. "Keracunan makanan yang terjadi di Sidoarjo kemarin, permohonan maaf saya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional atas kelalaian dan hal-hal yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan," ujarnya sembari menyentil dugaan kelalaian yang disengaja dari petugas dapur.
Sanksi Telah Diberikan Kepada Seluruh Karyawan hingga Kepala SPPG Kalitengah
Menindaklanjuti insiden ini, BGN langsung menjatuhkan saksi suspend berat selama 30 hari terhadap SPPG Kalitengah, sekaligus mengusulkan pencopotan kepala SPPG bersangkutan. Bupati Sidoarjo, Subandi, turut memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap 174 SPPG lain di wilayahnya guna mencegah kejadian serupa terulang.
Kasus Sidoarjo ini menambah panjang daftar insiden keracunan program MBG di Indonesia tahun ini, setelah sebelumnya kasus serupa juga terjadi di Pesawaran, Lampung (Juli 2026) dan Mojokerto, Jawa Timur (Januari 2026).
Editor : Aditya NovrianSumber : Dari berbagai sumber