BATU, RADAR BATU - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan telah mencapai kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, Selasa (1/9). Kondisi terparah terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengungkap, di Kalimantan Tengah terpantau 63 titik api dengan jarak pandang yang kini terbatas hanya sekitar 2 kilometer. Sementara di Kalimantan Barat, tercatat 30 titik api dengan kualitas udara masuk kategori berbahaya dan jarak pandang di bawah 1 kilometer.
Pontianak Menjadi Wilayah dengan Kualitas Udara Terburuk Se-Indonesia
Data terpisah dari situs pemantau kualitas udara IQAir bahkan menempatkan Kota Pontianak sebagai wilayah dengan kualitas udara terburuk se-Indonesia pada Selasa (1/9), dengan skor mencapai 695 dan masuk kategori Hazardous (berbahaya). Konsentrasi PM2,5 di Pontianak tercatat 423,5 µg/m³, atau 84,7 kali lipat dari standar aman yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Meski kondisi udara mengkhawatirkan, Berton menegaskan aktivitas masyarakat tetap berjalan normal, dengan imbauan tambahan untuk selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. "Community activities continue to run normally, but we urge the public to wear masks, particularly when venturing outdoors," ujarnya dalam siaran pers yang dipantau via kanal YouTube BNPB.
Baca Juga: Terdampak Kabut Asap Karhutla, Brunei dan Malaysia Bawa Kasus Kabut Asap ke ASEAN
Di tengah kondisi ini, ada kabar positif dari Satgas Darat di Kalimantan Barat yang telah berhasil memadamkan api di area seluas 262 hektare. Operasi udara turut dikerahkan, dengan lima helikopter water bombing yang telah mengguyurkan 724 ribu liter air ke wilayah terdampak.
Dampak kabut asap ini bahkan sudah menyeberang hingga ke Kepulauan Riau. Kualitas udara di Pulau Serasan dan Subi, Natuna, turut terpantau memburuk akibat pola angin dari selatan yang membawa massa asap dari Kalimantan.
BNPB kini menunggu rekomendasi dari BMKG terkait potensi hujan sporadis yang diprediksi terjadi pada 1-7 September 2026, guna mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah-wilayah terdampak. Namun, rendahnya visibilitas dan terbatasnya sumber air disebut masih menjadi hambatan utama dalam operasi pemadaman.
Kondisi di Provinsi Riau Menunjukkan Perbaikan
BNPB melaporkan Kota Pekanbaru kini memiliki jarak pandang lebih dari 9 kilometer meski masih ada 4 titik api tersisa, ditandai dengan pelaksanaan car free day yang kembali digelar di kota tersebut, Minggu (30/8).
Baca Juga: 7 Titik Kebakaran di Indonesia Sepekan Terakhir, dari Kalimantan hingga Nabire Papua
Editor : Aditya NovrianSumber : Dari berbagai sumber