JAKARTA, RADAR BATU – Kembali terjadi, nilai tukar rupiah merosot hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah sebelumnya sempat mengalami peningkatan di level Rp 17.999 pada awal pekan. Namun, kembali melemah pada level Rp18.090 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah mulai tercermin dari sejumlah indikator ekonomi domestik.
Baca Juga: Polri Resmi Tetapkan Eks Jampidsus Febrie Ardiansyah Tersangka Kasus Korupsi dan TPPU PT Asabri
Salah satu pemicu utamanya ialah performa neraca perdagangan Indonesia yang dilaporkan mengalami defisit pada Mei 2026. Ia memerinci bahwa neraca perdagangan mengalami defisit hingga US$1,61 miliar. Kondisi tersebut menandakan tingginya kebutuhan impor minyak mentah.
"Neraca perdagangan di bulan Mei ini mengalami defisit US$1,61 miliar. Ini menandakan kebutuhan impor minyak mentah cukup besar sehingga terjadi defisit," jelas Ibrahim.
Saat ini, di sejumlah perbankan, kurs jual dolar AS tembus kisaran Rp 18.100 hingga Rp18.220 per dolar AS.
Pelemahan mata uang rupiah diduga dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal yang masih membebani pasar.
Ibrahim menilai, penurunan nilai tukar rupiah akan terus berlanjut apabila berbagai sentiment negatif, baik dari dalam maupun dari luar negeri, masih belum reda.
"Selama sentimen domestik dan global belum mereda, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih akan berlanjut," pungkasnya.
Meski demikian, pemerintah menegaskan pelemahan rupiah tersebut tidak mencerminkan melemahnya fundamental ekonomi Indonesia.
Baca Juga: Ingin Dapat Bantuan Bedah Rumah? Ini Syarat Penerima BSPS 2026 di Kota Batu
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang positif.
"Sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang kuat. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen, sementara neraca perdagangan secara kumulatif sepanjang tahun masih membukukan surplus," ucap Airlangga Hartanto, Jumat (10/7).
Airlangga mengakui neraca perdagangan sempat defisit dalam sebulan terakhir. Namun, ia menyebut hal tersebut lebih disebabkan oleh kenaikan harga impor BBM akibat gejolak pasar energi global.
Editor : Aditya Novrian