JAKARTA, RADAR BATU – Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor menyampaikan bahwa transformasi dunia kerja saat ini telah menggeser kebutuhan kompetensi sekaligus membuka berbagai jenis lapangan pekerjaan baru.
Hal tersebut ia sampaikan saat membuka rangkaian acara ASEAN Leader: Dream, Lead, Inspire di Gedung Vokasi Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Selasa (7/7).
Ia menilai adanya kebijakan taktis yang mampu mengikis kesenjangan antara keahlian tenaga kerja dengan dinamika kebutuhan industri yang terus berkembang pesat.
Baca Juga: Bukan Absen, Menlu Sugiono Ungkap Alasan RI Diwakili Dubes dalam Prosesi Awal Pemakaman Khamenei
Peningkatan kompetensi menjadi kunci bagi tenaga kerja Indonesia agar mampu menghadapi perubahan dunia kerja yang mulai berubah akibat digitalisasi yang berjkembang pesat, kecerdasan buatan (AI), perubahan demografi, hingga transisi menuju ekonomi hijau (green economy).
"Dalam konteks inilah, kebijakan pasar kerja aktif memegang peranan yang sangat vital. Kebijakan ini harus mampu menjadi jembatan untuk menyelaraskan ketidaksesuaian antara suplai tenaga kerja dengan kebutuhan industri yang bergerak dinamis," kata Afriansyah Noor.
Lima Prioritas Akselerasi Ketenagakerjaan
Sebagai langkah nyata dalam menghadapi tantangan transformasi dunia kerja, Wamenaker menegaskan lima prioritas utama yang perlu diakselerasi bersama, antara lain:
Baca Juga: KPK Sesalkan Korupsi Bupati Langkat: Seragam Anak Didik Pun Jadi Ceruk Korupsi
- Memperkuat Program Reskilling dan Upskilling
- Mewujukan Pasar Kerja yang Inklusif
- Memperkuat Dialog Sosial dan Kolaborasi
- Memodernisasi Layanan Ketenagakerjaan
- Mengoptimalkan Program Pendukung Kerja Sama dan Kewirausahaan
Melalui lima langkah tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) berkomitmen dan berupaya untuk memastikan bahwa tenaga kerja Indonesia memliki kompetensi yang selaras dengan dinamika kebutuhan industri.
Dengan demikian, tenaga kerja Indonesia akan lebih siap dalam menghadapi gejolak dunia kerja sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul dari transformasi tersebut.
Guna meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia, Kemnaker terus memperluas jejaring kolaborasi di tingkat bilateral, regional, maupun multilateral.
Baca Juga: 19 Rumah Adat Jadi Magnet Baru Zona Kuliner Pasar Induk
Sejalan dengan berbagai upaya tersebut, ia menilai kebijakan dan kolaborasi perlu didukung oleh kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan dunia kerja yang terus berubah.
"Regulasi tersebut kertas tidak akan pernah cukup tanpa hadirnya kepemimpinan yang transformatif. Masa depan dunia kerja menuntut para pemimpin yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki empati, ketangkasan, dan visi yang mampu menginspirasi perubahan di dalam organisasinya," pungkasnya.
Editor : Aditya Novrian