JAKARTA, RADAR BATU – PT PAL Indonesia bersama Prancis Naval Group resmi memulai proses first steel cutting pada Juli 2026. Hal tersebut menandai dimulainya tahap pembangunan fisik dua unit Kapal selam Scorpene untuk Indonesia.
Direktur Produksi PT PAL, Diana Rosa menyampaikan bahwa tahap tersebut dimulai lebih cepat dari rencana yang telah dijadwalkan.
Ia menyampaikan langkah percepatan konstruksi tersebut diambil menyusul rampungnya tahap qualification section bersama Prancis Naval Group. Fase ini berfungsi untuk memastikan atau sebagai uji verifikasi untuk menjamin bahwa seluruh aspek seperti kesiapan sumber daya manusia, proses manufaktur, fasilitas produksi, serta sistem pengendalian mutu sesuai standar pembangunan kapal selam kelas dunia.
Baca Juga: Panglima Kogabwilhan III Letjen Lucky: TPNPB-OPM Segera Letakkan Senjata dan Kembali ke Ibu Pertiwi
Proyek Pembangunan dua unit kapal selam bertenaga baterai lithium kelas Scorpene ini dijadwalkan memulai proses pemotongan pelat baja pertama pada akhir Juli mendatang. Terkait pelaksanaannya, PT PAL Indonesia memegang kendali dan tanggung jawab penuh atas seluruh rangkaian aktivitas produksi.
Percepatan kontruksi ini dilakukan guna mempercepat waktu pengiriman. Sesuai dengan kontrak yang menyebutkan bahwa kapal selam pertama ditargetkan rampung pada tahun 2032 mendatang, kemudian disusul dengan kapal selam kedua yang dijadwalkan rampung pada tahun kedelapan.
”Kami tidak hanya bicara soal kecepatan, tetapi ketepatan mutlak. Spesifikasi kapal selam memiliki tingkat risiko sangat tinggi dengan toleransi kesalahan nol. Karakteristik strukturnya membutuhkan kelenturan material tinggi, sehingga tidak ada ruang untuk trial and error,” ujar Diana.
Baca Juga: Tak Hanya Penerbangan Langsung, Belarus Juga Dukung Kebijakan Bebas Visa dengan Indonesia
Naval Group memuji para welder Indonesia karena berhasil mencapai hasil pengelasan sempurna tanpa cacat (zero weld defect). Menurut Diana, prestasi manual atau handmade ini sangat krusial mengingat tingginya kerumitan sistem dan keterbatasan ruang pada kapal selam modern.
Di samping itu, puluhan teknisi asal Prancis juga akan diterbangkan menuju Surabaya untuk mendampingi seluruh proses manufaktur dari awal hingga akhir sekaligus memastikan transfer teknologi berjalan mulus.
Diana menilai, garapan proyek dan kehadiran para ahli ini dapat menjadi investasi jangka panjang untuk mendongkrak kompetensi teknisi Indonesia, memperkuat industri nasional, hingga menghasilkan ekosistem manufaktur teknologi tinggi yang siap bersaing di kancah internasional.
Baca Juga: Update Kasus Korupsi MBG: Diduga Mainkan Proyek Food Tray, Brigjen Lalu Muhammad Iwan Jadi Tersangka
”Program ini merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kompetensi engineer Indonesia, memperkuat industri nasional, dan membangun ekosistem manufaktur teknologi tinggi yang mampu bersaing di tingkat global,” pungkas Diana.
Editor : Aditya Novrian