RADAR BATU - Bukan tidak ada, keputusan mundur dari jabatan akibat ulah bawahannya memang tampak semakin langka. Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI Letjen Yudi Abrimantyo memutuskan untuk undur diri usai kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus yang menyeret nama 4 prajurit BAIS TNI.
“Ini bukan sekadar mundur. Ini adalah sikap ksatria. Ini pelajaran terbuka bagi banyak pejabat yang ketika bermasalah justru sibuk mencari pembenaran, memainkan opini, bahkan menyalahkan pihak lain,” tegas Ketua Umum Pasbata Prabowo David Febrian.
Ia menyebut sikap pengunduran diri Letjen Yudi Abrimantyo sebagai "tamparan keras" bagi para petinggi yang selama ini berupaya mempertahankan jabatan setelah terjegal persoalan.
BACA JUGA: UPT Sempat Tegur 4 Calo Uji Kir, Keluhan Pengujian Kendaraan Berlanjut
David menilai, sikap Letjen Yudi menunjukkan standar kepemimpinan yang berbeda. Tanggung jawab kepada rakyat harus berada di atas kepentingan pribadi maupun jabatan, bahkan sebelum proses hukum selesai.
“Di negeri ini, terlalu sering kita melihat pejabat yang jelas-jelas bermasalah tapi masih bertahan, berkelit, dan menghindar. Letjen Yudi justru melakukan hal sebaliknya. Urusan benar atau salah biar hukum yang membuktikan, tapi tanggung jawab kepada publik tidak bisa ditunda,” lanjutnya.
BACA JUGA: Pemilik Kendaraan Mengeluh, Uji Kir Batu Dinilai Ribet dan Tak Efisien
Pasbata Prabowo menilai, sikap seperti ini adalah bentuk kepemimpinan sejati yang mulai tergerus oleh praktik politik pragmatis. Ia bahkan menyebut, karakter ksatria seperti yang ditunjukkan Letjen Yudi semakin langka di kalangan elite.
“Ini tipe pemimpin yang semakin jarang kita temui. Berani bertanggung jawab tanpa harus dipaksa. Ini bukan soal tekanan, ini soal integritas,” ujarnya.
Namun begitu, ia menegaskan agar publik tidak terjebak narasi yang justru mengaburkan substansi kasus. Pengunduran diri mantan kepala BAIS TNI itu bukan akhir, melainkan awal dari proses hukum yang harus dikawal secara serius.
“Jangan dibelokkan. Jangan dipelintir seolah ini drama atau manuver. Ini bentuk tanggung jawab. Tapi proses hukum tetap harus berjalan dan kita kawal bersama,” tegasnya.
BACA JUGA: Parade Mobil Hias Baloga Ramaikan Libur Lebaran
Pasbata Prabowo juga sampaikan dukungan penuh terhadap langkah cepat dan terbuka yang dilakukan oleh Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI. Respons itu dinilai sebagai bukti bahwa TNI yang tugasnya menjadi garda terdepan dalam keselamatan negara sudah memang seharusnya tidak mentolerir pelanggaran dan serius menjaga kredibilitas institusi.
“Langkah tegas Puspom TNI menunjukkan bahwa tidak ada ruang untuk kompromi. Ini wajah transparansi di era demokrasi. Ini harus kita dukung, bukan dicurigai tanpa dasar,” ujarnya.
Di akhir pernyataan, Pasbata Prabowo mengajak masyarakat untuk menjadikan peristiwa pengunduran diri Letjen Yudi sebagai titik balik dalam membangun budaya tanggung jawab di ruang publik.
“Kalau semua pejabat punya keberanian seperti ini, bangsa ini tidak akan terus disandera oleh krisis kepercayaan. Ini contoh nyata. Tinggal mau ditiru atau tidak,” tutupnya.
Sumber: https://jawapos.com/kasuistika/2603270229/kepala-bais-mundur-imbas-kasus-penyiraman-air-keras-dinilai-jadi-tamparan-buat-elite-yang-suka-berkelit-dari-tanggung-jawab