Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Nasib Songgoriti di Atas Ketidakpastian (13), Aset Wisata dan Jejak Tradisi yang Kian Tergerus

Aditya Novrian • Sabtu, 7 Februari 2026 | 16:00 WIB

SAKRAL: Seorang pengunjung tampak mengamati Candi Songgoriti di kawasan wisata Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu kemarin (6/2).
SAKRAL: Seorang pengunjung tampak mengamati Candi Songgoriti di kawasan wisata Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu kemarin (6/2).

Songgoriti bukan sekadar kawasan wisata. Di balik sepinya pengunjung, tersimpan jejak candi, sumber air sakral, hotel tua peninggalan kolonial, hingga tradisi yang masih bertahan. Para tetua adat kini khawatir, nilai budaya yang dulu hidup justru memudar sebelum sempat diwariskan.


ZANADIA MANIK FATIMAH


PAGI di Songgoriti selalu datang bersama udara dingin yang merambat pelan dari lereng perbukitan. Kabut tipis turun menyelimuti kompleks wisata yang kini tampak lengang. Di beberapa sudut, bangunan tua berdiri dengan cat yang mulai kusam. Jalan setapak menuju candi terasa sunyi.

Jalan itu sesekali hanya dilewati peziarah yang datang membawa air dalam botol-botol plastik. Sepi itu tak hanya menghadirkan ketenangan, tetapi juga kekhawatiran. Terutama bagi para tetua adat yang sejak lama menjaga ingatan kolektif kawasan tersebut.

Kawasan wisata Songgoriti di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, menyimpan sejarah panjang yang tak terpisahkan dari keberadaan Candi Songgoriti, sumber air panas alami, dan tradisi yang tumbuh di sekitarnya.

Namun seiring waktu, potensi itu perlahan memudar dari ingatan publik. Pemangku adat setempat, Wiji Mulyo atau yang akrab disapa Mbah Sabran, masih mengingat betul masa ketika kawasan ini begitu hidup. Langkahnya menyusuri area wisata seperti menelusuri memori yang kini hanya tersisa dalam cerita.

“Dulu kawasan ini sangat hidup. Hotel Songgoriti, candi, pusat oleh-oleh hingga sumber air panas alaminya menjadi daya tarik utama,” ujarnya. Hotel tua di kawasan itu, menurutnya, merupakan peninggalan era kolonial Belanda. Pada 1973, pengelolaan Songgoriti sempat dilakukan secara mandiri oleh warga.

Setahun kemudian, pengelolaan beralih ke pemerintah kabupaten melalui PT Jasa Yasa.

Sejak 1974 hingga awal 2000-an, Songgoriti berada di puncak keramaian. Berbagai kegiatan pemerintahan maupun masyarakat sering digelar di sana. Kawasan itu bukan sekadar destinasi wisata, melainkan pusat aktivitas sosial.

Baca Juga: Nasib Songgoriti, Aset Wisata yang Berdiri di Atas Ketidakpastian (5), Pernah menjadi Pusat Vila Terbesar

Sumber air panas dimanfaatkan untuk kebutuhan hotel sekaligus masyarakat. Uap hangatnya dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit. “Dulu kalau Pemkab Malang ada kegiatan, larinya ke sini,” kenang Mbah Sabran.

Bahkan, kawasan tersebut pernah menjadi tempat persinggahan tokoh penting negara. Wakil Presiden Adam Malik disebut pernah bermalam di Hotel Songgoriti saat melakukan kunjungan kerja. Jejak sejarah itu menambah panjang daftar cerita yang melekat pada kawasan tersebut.

Namun, kejayaan itu perlahan meredup. Masuknya investor swasta PT Bumi Mas sempat mengubah pola pengelolaan. Setelah melalui proses eksekusi, aset kembali ke PT Jasa Yasa dan sempat dikerjasamakan dengan PT Lembu Nusantara.

Sekitar 2018, kawasan Songgoriti kembali sepi. Bagi Mbah Sabran, kemunduran itu tidak semata akibat pandemi Covid-19. Ia menilai persoalan manajemen wisata juga berperan besar. “Sepinya ini karena manajemen wisatanya bukan pandemi,” tegasnya.

Padahal, Songgoriti menyimpan nilai budaya dan tradisi yang kental. Candi Songgoriti menjadi salah satu penanda sejarah penting. Candi itu dikelilingi tiga sumber air berbeda-beda suhu. Yakni air dingin, air panas, serta air campuran panas-dingin. Kombinasi tersebut jarang ditemukan di situs lain.

“Candi mana lagi yang punya tiga sumber sekaligus seperti ini,” ujarnya. Tiga sumber air itu hingga kini masih dipercaya memiliki khasiat kesehatan. Peziarah datang dari berbagai daerah untuk mengambil air atau sekadar berdoa. Namun, di tengah keyakinan yang masih bertahan, generasi muda justru mulai asing dengan sejarah dan makna kawasan tersebut.

“Anak-anak sekarang banyak yang belum memahami nilai di baliknya. Pembelajaran sejarah dan budaya seharusnya bisa diarahkan ke sini,” kata Mbah Sabran. Selain candi, tradisi Suroan dan upacara bersih desa menjadi denyut budaya yang masih tersisa. Setiap tahun, ribuan orang datang mengikuti ritual yang berlangsung di sekitar candi dan punden.

Prosesi itu diisi doa bersama, pembagian jenang suro, pertunjukan bantengan, hingga wayang kulit semalam suntuk. Pada peringatan Suroan 2025, panitia bahkan menyiapkan lebih dari 800 takir jenang. Jumlah itu masih belum mampu memenuhi antusiasme pengunjung. Banyak warga yang datang tetapi tidak kebagian.

Tradisi tersebut menunjukkan bahwa Songgoriti masih memiliki magnet budaya. Potensi itu dinilai bisa dikembangkan sebagai wisata edukasi berbasis sejarah dan tradisi, jika dikelola secara serius.

Mbah Sabran berharap pengelolaan ke depan dapat belajar dari kawasan wisata purbakala lain seperti Candi Borobudur atau Prambanan. Ia menilai dua candi itu mampu memadukan pelestarian budaya dengan pengelolaan wisata modern. “Ini harus dijaga agar tidak punah dan tetap memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Di kompleks candi, dua juru pelihara masih bertugas setiap hari. Salah satunya, Feti Fera, mengatakan kawasan Candi Songgoriti tetap dibuka untuk umum. Pengunjung datang untuk berbagai tujuan. Mulai dari beribadah, mengambil air, hingga mempelajari sejarah.

Wisatawan tidak hanya berasal dari dalam negeri. Beberapa pengunjung mancanegara juga terlihat datang. Terutama dari negara-negara Eropa seperti Prancis. Mereka biasanya didampingi penerjemah untuk memahami sejarah dan fungsi candi. “Potensinya sebenarnya besar untuk wisata edukasi,” kata Feti.

Namun kontras terlihat ketika membandingkan area candi dengan kawasan pasar wisata di sekitarnya. Jika candi masih dikunjungi, beberapa titik wisata lain justru tampak sepi. Bangunan-bangunan yang dulu ramai kini lebih sering ditemani sunyi.

Songgoriti masih menyimpan jejak kejayaan dan kekayaan tradisi. Tetapi tanpa pengelolaan yang terarah dan edukasi berkelanjutan, jejak itu dikhawatirkan hanya akan menjadi cerita yang perlahan menghilang bersama waktu. (*/dre)

Disunting Kembali: Diva Ayu Herdianasari

Editor : Aditya Novrian
#songgoriti #songgokerto #sejarah panjang