Gaji Habis Sebelum Gajian: Kenapa Gen Z Susah Menabung di Tengah Gempuran Diskon Online

Aqila Sahira Dewi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 12:00 WIB
Ilustrasi Gen Z kehabisan uang (Freepik)
Ilustrasi Gen Z kehabisan uang (Freepik)

BATU, RADAR BATU – Fenomena "gaji numpang lewat" makin akrab di kalangan Gen Z. Baru beberapa hari menerima gaji, saldo rekening sudah menipis lagi. Kondisi ini bukan sekadar keluhan receh di media sosial, tapi didukung data yang cukup mengkhawatirkan.

Tabungan Gen Z Jauh dari Kata Aman

Survei Konsumen Bank Indonesia edisi Desember 2025 mencatat rasio tabungan terhadap pendapatan masyarakat hanya berada di angka 14,9 persen. Angka ini kontras jauh dengan porsi konsumsi yang justru mendominasi hingga 74,3 persen dari total pendapatan. Artinya, dari setiap Rp1 juta yang diterima, sebagian besar habis untuk belanja dan kebutuhan harian, sementara yang berhasil disisihkan untuk tabungan tidak sampai seperlimanya.

Data yang lebih spesifik soal Gen Z juga tak kalah mengejutkan. Berdasarkan riset dari lembaga finansial Finder, sekitar 31 persen Gen Z Indonesia mengaku sama sekali tidak memiliki tabungan. Kalaupun ada, jumlahnya jarang tembus angka 10 juta rupiah. Kondisi ini sejalan dengan temuan bahwa hanya 24 persen masyarakat Indonesia memiliki dana darurat yang memadai untuk menghadapi situasi tak terduga.

Baca Juga: 5 Tips Jitu Mengatur Gaji UMR: Tetap Bisa Menabung dan Cukup Sampai Akhir Bulan

Persoalan ini juga terlihat dari sisi global. Survei Bank of America terbaru menunjukkan hanya 15 persen Gen Z yang rutin menyisihkan sebagian gajinya untuk ditabung, dan hanya satu dari lima yang sudah memiliki dana pensiun. Lebih dari separuh responden, tepatnya 53 persen, bahkan merasa penghasilan mereka tidak cukup untuk menjalani gaya hidup yang mereka inginkan.

Diskon Online Jadi Salah Satu Biang Kerok

Salah satu faktor yang paling sering disebut dalam berbagai penelitian adalah kemudahan berbelanja online yang dibalut strategi diskon dan flash sale. Kemudahan transaksi digital, mulai dari fitur checkout sekali klik hingga notifikasi promo yang muncul terus-menerus di ponsel, menjadi pemicu utama tingginya perilaku konsumtif generasi muda.

Riset akademik memperkuat dugaan ini. Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Manajemen Terapan dan Keuangan menemukan bahwa diskon waktu terbatas dan interaktivitas siaran langsung berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif Gen Z. Fenomena FOMO atau rasa takut ketinggalan kesempatan terbukti memediasi sebagian hubungan antara diskon waktu terbatas dan pembelian impulsif tersebut.

Fenomena serupa juga ditemukan pada kebiasaan belanja lewat live streaming. Penelitian di jurnal DESANTA mencatat sebanyak 62 persen Gen Z memilih berbelanja melalui siaran langsung karena adanya komunikasi real-time dengan penjual, yang pada akhirnya mendorong perilaku impulse buying lewat strategi flash sale dan pesan kelangkaan barang yang memicu FOMO.

Baca Juga: Tips Menabung Efektif untuk Pemula, Dijamin Lebih Terkontrol

Pada akhirnya, sulitnya Gen Z menabung bukan cerita satu sisi. Ada faktor gaya hidup dan godaan diskon online yang memang dirancang untuk memancing pembelian spontan, tapi ada juga faktor struktural seperti upah rendah dan biaya hidup tinggi yang membuat ruang untuk menabung semakin sempit.

 

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
diskon online gaya hidup konsumtif keuangan pribadi Gen Z menabung