KOTA BATU, RADAR MALANG – Jumlah konsumen yang membeli tanaman hias di Desa Sidomulyo, Kota Batu, anjlok drastis hingga 70 persen pasca-pandemi. Penurunan ini diperparah oleh pergeseran tren pariwisata daerah yang kini lebih didominasi wisata hiburan modern ketimbang agrowisata. Akibatnya, omset harian pedagang merosot tajam dari semula Rp 5 juta - 20 juta per hari, kini rata-rata hanya menyentuh Rp 1 juta.
Rizal Afriandi, pemilik Kios Bunga Barokah di Desa Sidomulyo, mengungkapkan bahwa lesunya pasar fisik memaksa pedagang beralih ke komoditas klasik yang pasarnya stabil seperti bunga anggrek, kaktus, dan sekulen untuk suvenir. Hal itu guna memicu minat beli masyarakat yang melemah di tengah ketatnya persaingan, para pedagang lokal kini terpaksa menerapkan strategi banting harga.
Upaya beralih ke ranah digital yang sempat dicoba pun justru membentur realitas tingginya potongan komisi dari platform belanja online (daring).
Rizal mengaku terpaksa menghentikan aktivitas jualannya di aplikasi TikTok akibat skema tarif administrasi yang dinilai mencekik margin keuntungan pedagang.
"Potongannya cukup tinggi sampai 20 persen lebih. Kalau kami naikkan harganya, takut malah tidak laku," keluh Rizal. Selain komisi yang mahal, risiko logistik pengiriman jarak jauh seperti tanaman layu, stres, atau mati di perjalanan juga menjadi kendala utama pasar daring.
Menghadapi situasi sulit yang ditambah beban lonjakan harga pupuk ini, Rizal mendesak Pemkot Batu untuk segera mengambil langkah strategis. Mereka berharap pemerintah daerah kembali masif mempromosikan citra Batu sebagai kota penghasil bunga, serta memberikan regulasi kelonggaran pajak agar usaha mereka dapat bertahan. (kr2)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Batu