Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

TEMAN atau LAWAN? Kenali Tanda-Tanda Toxic Friendship yang Diam-Diam Merugikan Kesehatan Mental

Parahita Ade Kumala • Minggu, 7 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi Teman atau Lawan (sumber foto:  magnific)
Ilustrasi Teman atau Lawan (sumber foto: magnific)
BATU, RADAR BATU – Pertemanan seharusnya menjadi tempat untuk saling mendukung, berbagi cerita, dan bertumbuh bersama. Namun, tidak semua hubungan pertemanan memberikan dampak positif. Tanpa disadari, seseorang bisa saja terjebak dalam toxic friendship atau pertemanan yang tidak sehat, yang justru membuat kondisi mental menjadi lebih tertekan.

Apa Itu Toxic friendship?

Toxic friendship merupakan hubungan pertemanan yang cenderung merugikan salah satu pihak. Alih-alih merasa nyaman setelah bertemu atau berkomunikasi, seseorang justru merasa lelah secara emosional, kehilangan kepercayaan diri, hingga merasa dimanfaatkan. Kondisi ini dapat terjadi dalam berbagai lingkungan, mulai dari pertemanan sekolah, kuliah, tempat kerja, hingga lingkaran pergaulan sehari-hari.

Apa Saja Tanda Memiliki Teman Toxic?

Salah satu tanda paling umum adalah munculnya rasa capek mental setelah menghabiskan waktu bersama teman tersebut. Selain itu, teman toxic juga sering menjatuhkan orang lain melalui kritik berlebihan, meremehkan pencapaian, atau mempermalukan temannya di depan orang lain. Hubungan yang tidak memiliki timbal balik juga patut diwaspadai, terutama jika seseorang hanya dicari saat dibutuhkan tetapi tidak mendapatkan dukungan saat mengalami kesulitan.

Baca Juga: Ratusan Vila di Kota Batu Tiarap, Tarif Rp 80 Ribu Pun Tak Dilirik

Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat beberapa tipe teman toxic yang cukup sering ditemui. Pertama, “si ratu drama” yang selalu membawa konflik dan membuat masalah kecil terasa besar.

Kedua, “si pencemburu” yang sulit ikut bahagia ketika melihat temannya sukses.

Ketiga, “si pemanfaat” yang hanya datang ketika membutuhkan bantuan. Saat menghadapi masalah, mereka sering mencari untuk bercerita, meminta dukungan, atau meminta pertolongan. Namun ketika hidupnya sedang berjalan lancar dan menyenangkan, mereka jarang menghubungi, tidak memberi kabar, bahkan tidak melibatkan kamu dalam momen-momen bahagia mereka.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, penting bagi kamu untuk menetapkan batasan yang sehat dalam pertemanan. Jika perilaku tersebut terus berulang dan mengganggu kesehatan mental, menjaga jarak secara bertahap dapat menjadi pilihan.

Selain itu, mengakhiri atau cut off pertemanan juga bukan hal yang salah apabila hubungan tersebut sudah lebih banyak membawa stres, luka emosional, dan ketidaknyamanan dibandingkan manfaatnya. Dikarenakan pertemanan yang baik adalah hubungan yang membuat kedua belah pihak merasa dihargai, didukung, dan berkembang bersama, bukan justru menjadi sumber stres dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Tiga Kandidat 'Triple A' Lolos Seleksi Terbuka, Nilai Tertinggi Pansel Bukan Jaminan Utama, Hak Prerogatif Kini di Meja Wali Kota

Editor : Aditya Novrian
#teman toxic #Toxic Friendship #lawan #memanfaatkan