Lantas, apa sebenarnya makna dari istilah ini dalam kehidupan nyata, dan mengapa perannya begitu krusial sekaligus mengerikan di dalam film? Yuk, simak ulasannya!
Apa Itu Purnomo Ageng?
Dalam bahasa Jawa, Purnomo Ageng merujuk pada fenomena bulan purnama penuh atau supermoon. Kata purnomo berarti bulan purnama, sementara ageng berarti besar atau agung. Dalam tradisi Jawa, momen ini tidak hanya dipandang sebagai peristiwa astronomi, tetapi juga dipercaya sebagai waktu yang memiliki energi spiritual yang kuat dan sering dikaitkan dengan aktivitas ritual atau kegiatan adat tertentu.
Baca Juga: Tiga Kandidat Sekda Kota Batu Lolos Seleksi Terbuka, Kini Menunggu Keputusan Wali Kota
Sisi Kelam Purnomo Ageng dalam "Sekawan Limo 2"
Dalam film Sekawan Limo 2, makna sakral tersebut kemudian diadaptasi menjadi elemen cerita yang menegangkan. Malam Purnomo Ageng digambarkan sebagai batas waktu terjadinya ritual pesugihan yang melibatkan Kerajaan Demit. Pada malam tersebut, dikisahkan terjadi penagihan tumbal yang harus dipenuhi oleh pelaku pesugihan, termasuk yang menimpa keluarga tokoh utama, Andrew.
Ketegangan semakin meningkat karena ritual tersebut tidak hanya berlangsung sekali, tetapi memiliki tingkatan kutukan yang disebut Kapisan, Kapindon, hingga Kapitellon. Setiap tahap membawa ancaman yang semakin besar bagi para tokoh yang terlibat dalam konflik di Gunung Klawih.
Jadi, jika nanti kamu melihat langit malam dan menemukan bulan bersinar sangat besar dan terang, ingatlah bahwa itu adalah malam Purnomo Ageng. Tapi tenang saja, kamu tidak perlu takut diteror demit Gunung Klawih selama kamu tidak punya utang pesugihan!
Baca Juga: Ratusan Vila di Kota Batu Tiarap, Tarif Rp 80 Ribu Pun Tak Dilirik
Editor : Aditya Novrian