Sorotan tersebut biasanya menjadi penanda pengalaman traveling, pertukaran pelajar, hingga kuliah di luar negeri. Selain terlihat estetik, deretan bendera itu juga sering dianggap mencerminkan gaya hidup global, finansial mapan, dan wawasan yang luas.
Banyak cowok merasa minder karena menganggap diri mereka belum selevel dengan gaya hidup yang ditampilkan di media sosial tersebut. Biaya traveling ke luar negeri yang tidak murah membuat sebagian orang merasa tertinggal secara finansial maupun pengalaman hidup.
Selain faktor ekonomi, pengalaman juga membuat seseorang terlihat lebih mandiri dan percaya diri. Hal ini sering memicu ketakutan bahwa obrolan tidak akan nyambung atau merasa kurang menarik saat mendekati cewek dengan gaya hidup seperti itu.
Media sosial juga dinilai memperbesar rasa insecure karena pengguna cenderung hanya menampilkan sisi terbaik hidup mereka. Mulai dari nongkrong di luar negeri, circle pertemanan luas, hingga pencapaian akademik sering kali membuat orang lain tanpa sadar membandingkan hidupnya sendiri.
Baca Juga: TNI Kembali Berangkatkan 744 Prajurit ke Lebanon, Panglima hingga Menlu Beri Pesan
Meski begitu, banyak warganet menganggap rasa minder tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Alih-alih merasa kalah sebelum mencoba, fenomena ini justru bisa menjadi motivasi untuk mengembangkan diri, memperluas wawasan, hingga membangun kestabilan finansial.
Highlight Instagram hanyalah bagian kecil dari kehidupan seseorang. Banyak orang sepakat bahwa hubungan yang sehat tetap dibangun lewat kecocokan, komunikasi, dan kenyamanan, bukan sekadar jumlah bendera negara di media sosial.
Oleh karena itu, tak perlu merasa insecure melihat highlight penuh bendera negara di media sosial. Pada akhirnya, kenyamanan dan kecocokan dalam hubungan tidak ditentukan dari seberapa banyak negara yang pernah dikunjungi dan seberapa besar harta, tapi bagaimana perjuangan dan tanggungjawabmu dalam memperjuangkannya.
Editor : Aditya Novrian