Fenomena ini semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anak muda merasa lebih nyaman menuangkan perasaan pada AI karena dianggap lebih aman, tidak ada adu nasib, dan tidak menghakimi.
Salah satu alasan utama adalah rasa bebas tanpa tekanan sosial. Curhat ke AI membuat seseorang tidak perlu khawatir dinilai, disalahpahami, atau bahkan menjadi bahan pembicaraan orang lain.
Baca Juga: Bioskop Kian Sepi Penonton, Menunggu Tayang di OTT Jadi Pilihan Baru
Selain itu, AI juga selalu tersedia kapan saja. Tidak seperti teman yang memiliki kesibukan, AI bisa diakses 24 jam, sehingga menjadi pilihan praktis saat seseorang membutuhkan tempat bercerita.
Faktor anonimitas juga menjadi daya tarik. Pengguna dapat menyampaikan hal-hal pribadi tanpa harus membuka identitas secara langsung. Hal ini membuat banyak orang merasa lebih leluasa dalam mengungkapkan perasaan terdalam.
Menurut kajian psikologi yang dirangkum dalam artikel Universitas Gadjah Mada, fenomena ini menunjukkan adanya kebutuhan dasar manusia untuk didengar. Namun, cara pemenuhannya kini mulai bergeser seiring perkembangan teknologi.
Pakar dari Universitas Gadjah Mada juga mengingatkan bahwa penggunaan AI sebagai tempat curhat perlu disikapi secara bijak. Ketergantungan berlebihan dapat berdampak pada menurunnya kemampuan berinteraksi secara sosial.
Hubungan antarmanusia tetap memiliki peran penting, terutama dalam memberikan empati yang nyata dan dukungan emosional yang lebih mendalam. Hal ini belum sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi.
Selain itu, terlalu sering mengandalkan AI juga berpotensi membuat seseorang menghindari konflik atau percakapan sulit yang sebenarnya penting dalam relasi sosial.
Curhat ke AI bisa menjadi alternatif yang membantu, tetapi bukan pengganti hubungan sosial secara utuh. Keseimbangan antara teknologi dan interaksi nyata tetap menjadi kunci dalam menjaga kesehatan mental di era digital.
Baca Juga: Pupuk Bawang Cafe & Dining Jadi Spot Favorit Ngedate dengan Pemandangan Menawan
Editor : Aditya Novrian